BHAGAVAD-GITA

(Untuk Anak dan Pemula)

 

 

Dilengkapi dengan Pendahuluan,

terjemahan sederhana ke dalam Bahasa Indonesia,

dipilih dari 400 ayat Gita,

dengan tambahan 26 cerita ilustrasi,

cocok untuk anak umur 10 tahun ke atas dan para pemula,

disertai dengan teknik meditasi dan mantra sederhana.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh:

Ramananda Prasad, Ph.D.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

INTERNATIONAL GITA SOCIETY


First Children Edition, 2008

Fifth (or Paperback Pocket) Edition, 2008

Fourth Edition, Second Printing, 2008

Fourth Revised and Enlarged Edition, 2004

Hindi Edition, 2004

Free Pocket size editions, 2000-2008

Third Revised Edition, 1999

Third and other Printings, 1998

Second Printing, 1997

Second Revised and Enlarged Edition, 1996

(Published by Motilal Banarsidass in India)

First Edition, 1988

 

 

 

Copyright © 2008 by the

International Gita Society

511 Lowell Place, Fremont, CA 94536

Phone (510) 791 6953, 6993

gita@gita-society.com

Visit www.gita-society.com

www.gita4free.com

 

 

All rights reserved. This book, or parts thereof, may be copied in

any form only for non-commercial use provided the credit is

given to the International/American Gita Society

 

 

ISBN 978-0-557-01361-6

 

 

Pengalih bahasa: Luh Resiki

Penyunting: Anindita W & W. Suastana

Design:

 

Edisi Pertama, 2010

 

Hak cipta terjemahan Bahasa Indonesia:

Luh Resiki

Phone (62) 361 772 746

luhresiki@yahoo.com

 

Komentar untuk terjemahan Gita ini dari seluruh pelosok dunia:

... setiap penerjemah Gita Universal seharusnya memiliki terjemahan dari Dr Ramananda Prasad ini untuk referensi tetap. Terjemahan Gita ini asli. Merupakan sebuah referensi ringkas bagi setiap pencari, dan setiap penerjemah. Kebenaran Kekal dengan jelas di kedepankan, dan, pada saat yang sama merupakan terjemahan dalam bahasa Inggris terbaik yang paling mudah dibaca dan dipahami... ”

--- Dr. Philippe De Coster, D.D, Belgium

 

“... Sebuah terjemahan indah. Sudah waktunya kita mendapatkan terjemahan baru dari Bhagavad-Gita. Dr Prasad mengambil pendekatan yang jauh lebih sederhana, menterjemahkan Gita dengan kemampuan terbaiknya dan membiarkan pembaca memahaminya dan tidak memaksakan pendapatnya sendiri pada orang lain. Setiap kali ada kemungkinan kebingungan, Prasad mendefinisikan istilah-nya dan beruasaha keras untuk memastikan bahwa apa yang berusaha digambarkan oleh Vyasa dijelaskan dengan cermat sehingga bisa dimengerti oleh mereka yang tidak akrab dengan India / filsafat Timur. Lebih akurat daripada kebanyakan terjemahan ke dalam prosa modern, ini merupakan tempat yang sangat baik untuk memulai jika Anda baru mulai mendalami filsafat Timur. ”

¾ Gsibbery, Baton Rouge, LA.

 

“... American Gita Society sekarang memberikan terjemahan, yang merangsang pemikiran para pencari, dan pada saat yang sama tidak memberikan komentar-komentar bias serta dapat dengan mudah dipahami oleh orang awam. Terjemahan ini tidak mendukung, menyebarkan, atau menentang siapapun, terjemahannya diberikan tanpa motivasi dan spekulasi pribadi....

¾ Douglas Remington, Los Angeles, 1997

 

“... terjemahan ini memiliki format yang sangat baik. Sangat sederhana, kompak, bagus, dan nyaman untuk dibaca. Buku Anda Maha Prasada. Saya sangat menyukainya....”

¾ Ojasvi Dasa, Divine Life Society of Brazil

 

“….Saya mohon agar organisasi Anda terus menyebarkan kebenaran yang ditemukan dalam Gita kepada para pencari transendensi spiritual dan pencari pembebasar dari belenggu komersialisme ….”

¾ Steven Blackwell, New York

 

“… terjemahan ini merupakan produk dari sebuah perenungan meditatif untuk menyampaikan pesan aslinya. Akibatnya, kejernihan dan kesederhanaan menjadi ciri utama terjemahan ini. Penjelasan penulis mengenai ayat-ayatnya tidak mengalami distorsi makna atau penafsiran. Penggunaan bahasa Sanskerta secara bijaksanan dalam terjemahan yang megah ini menyampaikan keindahan kepada pembaca. Hal ini ditandai dengan penjelasannya yang jernih dan tidak berlebihan. Buku ini menyegarkan bebas dari sectarian…”

¾ Vedanta Kesari, Calcutta, May 1997

 

“… Saat ini saya membuat buku pelajaran tentang budaya kuno di World-Wide Web. Saya ingin menyertakan terjemahan Gita oleh Dr Ramananda Prasad di situs saya. Saya tertarik mewakili India,, dan saya khawatir dengan terjemahan Gita oleh Sir Edwin Arnold yang didistribusikan di seluruh net akan lebih banyak membuat siswa menghindar daripada lebih memahaminya…”

¾ Prof. Anthony Beavers, University of Evansville, Indiana, USA

 

“... Dr Prasad membawa kebijaksanaan kuno dan pesan ilahi ke penerapan modern. Sebuah perpaduan melodi yang indah dan menarik…”

---H.H. Swami Chidanand Sarasawati (Muniji), Rishikesh, India

 

“… Saya telah membaca beberapa edisi dari Gita, dan belum pernah menemukan deskripsi inti dan latar belakang Gita dengan terjemahan yang begitu sederhana dan jelas …”

¾     R.  Puran, Williamsville, Trinidad

 

TUJUAN

dari

International Gita Society

(Sebelumnya: American Gita Society)

 

Didirikan pada tahun 1984, International Gita Society (IGS) adalah sebuah lembaga rohani terdaftar, nirlaba, bebas pajak, di Amerika Serikat di bawah 501 (c) (3) dari IRS Code. Keanggotaan gratis dan terbuka untuk umum. Tujuan IGS meliputi:

1.     Menerbitkan dan mendistribusikan, Bhagavad-Gita dengan bahasa yang sederhana dan mudah untuk dipahami, kepada siapa pun yang tertarik pada Gita.

 

2.     Menyebarkan dasar ajaran Universal (non sectarian) dari Shrimad Bhagavad-Gita dan kitab suci Veda dalam bahasa yang mudah dimengerti dengan mendirikan cabang-cabang Society di negara-negara lain.

 

3.     Memberikan dukungan dan bimbingan dalam membangun Grup Pembelajaran dan Diskusi Gita (Satsang), termasuk korespondensi Gita gratis.

4.     Untuk memberikan inspirasi, kerjasama, dan dukungan kepada orang-orang dan organisasi nirlaba yang terlibat dalam studi dan penyebaran pengetahuan Veda.

5.     Untuk memecahkan hambatan antar umat beragama, dan membentuk kesatuan ras, agama, kasta, dan kepercayaan melalui ajaran abadi non-sektarian Veda, Upanisad, Gita, Ramayana, serta kitab suci besar lainnya seperti Dhammapada, Alkitab, Quran, dll; dan untuk mempromosikan Persaudaraan Universal.

 

     Bagi pembaca yang tertarik untuk ikut mempromosikan tujuan society

…silahkan menghubungi

    secretary: gita@gita-society.com

 

The International Gita Society

511 Lowell Place

Fremont, CA 94536-1805 117, USA

Visit us: www.gita-society.com

www.gita4free.com

 

 

 

 

 

 

Writer: Ramananda Prasad, Ph.D.
Editor-in-Chief: Doret Kollerer

Graphic illustrator: Help is Needed

                                       

Editorial Board:

Yogiraj Madhavacharya

    (Michael Beloved)

Sadhana Prasad

Kalavati Patel

Shyamala Raveendran

Usha Gupta

Jay Mazo

Jay Raina

Raj Raina

Kajal Virendra Khiani  

Alka Sood

C. J Chionh

Devaki Wagle

Sean Wilmut

 

 

 

Catatan: dalam pengucapan kata Sanskerta

atau Hindi: "ā” dibaca dengan keras seperti

suara “a” pada kata Rāma.

Sedangkan “a” dalam bahasa Sanskerta

atau Hindi dibaca dengan lembut atau tidak

dibaca sama sekali berbeda dengan huruf “ā” )

 

 

 

Buku ini ditujukan dan didedikasikan kepada

Semua Anak dan Cucu

 

 

 


 



BAB GITA dan CERITA

 

Pendahuluan

 

BAB

 

 

1

Kebingungan Arjuna

 

2

Kesadaran Tuhan

 

3

KarmaYoga, Jalan Tugas (Pelayanan Tanpa Pamrih)

 

4

Jalan Pengingkaran Diri dengan Kesadaran

 

5

Jalan Pengingkaran

 

6

Jalan Meditasi

 

7

Kesadaran Diri dan Pencerahan

 

8

Brahman yang Abadi

 

9

Pengetahuan Tertinggi dan Misteri Besar

 

10

Manifestasi Tuhan

 

11

Visi Tuhan

 

12

Jalan Pengabdian

 

13

Ciptaan dan Sang Pencipta

 

14

Tiga Sifat Alam

 

15

Yang Maha Agung

 

16

Karakter Ilahi dan Karakter Iblis

 

17

Keyakinan Tiga Kali Lipat

 

18

Pembebasan Melalui Penyangkalan

 


 



DAFTAR CERITA

1

Tuan Jujur

 

2

Ujian Kelulusan

 

3

Sir Alexander Fleming

 

4

Ekalavya

 

5

Adi Sankarāchārya

 

6

Dhruva

 

7

Melihat Tuhan pada Semua Mahluk

 

8

Yang Gaib

 

9

Raja Bharata

 

10

Seorang Anak Lelaki yang memberi makan Tuhan

 

11

Perjalanan Besar Seorang Rsi Perampok

 

12

Tapak Kaki

 

13

Empat Orang Buta

 

14

Tuhan Selalu Bersamamu

 

15

Bhakta Prahlāda

 

16

Boneka Garam

 

17

Seekor Harimau Vegetarian

 

18

Tiga Perampok

 

19

Krishna Kecil

 

20

Shri Ramakrishna

 

21

Kisah Seekor Anjing dan Tulang

 

22

Ratu Draupadi

 

23

Seeokor Burung Gagak yang Kehausan

 

24

Kelinci dan Kura-Kura

 

25

Pria yang Tidak Pernah Menyerah

 

26

Aku Bukan Burung Bangau

 

 

 

 

 

BHAGAVAD-GITA

Untuk Anak dan Pemula

 

 

PENDAHULUAN

 

Jai: Nek, aku punya kesulitan memahami ajaran Bhagavad-Gita. Maukah nenek membantuku?

 

Nenek: Tentu saja, Jai, nenek akan dengan senang hati membantumu. Engkau harus tahu bahwa kitab suci ini mengajarkan kita bagaimana untuk hidup bahagia di dunia. Ini adalah sebuah kitab suci kuno Hindu Dharma (juga dikenal sebagai Sanātana Dharma atau Hindu), tetapi dapat dipahami dan diikuti oleh orang-orang dari berbagai kepercayaan. Gita terdiri dari delapan belas 18 bab dengan total 700 ayat. Siapapun dapat terbantu dengan mempraktekkan beberapa ajaran-ajarannya sehari-hari.

 

Kata 'Bhagavad' berarti Tuhan atau Tuhan Yang Maha, atau Bhagavān dalam bahasa Sanskerta. 'Gita' berarti nyanyian. Jadi Bhagavad-Gita berarti Nyanyian Tuhan atau Lagu Suci, karena dinyanyikan oleh Bhagavān Shri Krishna sendiri.

 

Awal turunnya Gita seperti ini:

 

Pada zaman dahulu ada seorang raja yang mempunyai dua putra, Dhritarāshtra dan Pāndu. Karena sang putra mahkota (Dhritarāshtra) dilahirkan buta; maka Pāndu (adiknya) mewarisi kerajaannya. Pāndu memiliki lima putra laki-laki. Mereka disebut Pāndava. Dhritarāshtra memiliki seratus putra. Mereka disebut Kaurava. Duryodhana adalah anak tertua dari Kaurava.

 

Setelah kematian raja Pāndu, putra sulungnya, Yudhisthira, menjadi raja yang sah. Hal ini membuat Duryodhana menjadi sangat iri.

 

Dia juga menginginkan kerajaan. Oleh karena itu, kerajaan kemudian dibagi menjadi dua bagian antara Pāndava dan Kaurava. Namun Duryodhana tidak puas dengan bagiannya. Dia menginginkan seluruh kerajaan untuk dirinya sendiri. Dia mencoba beberapa cara jahat untuk membunuh para Pāndava agar bisa mengambil kerajaan mereka. Seiring berjalannya waktu, ia berhasil mengambil alih seluruh kerajaan para Pāndava dan menolak untuk memberikannya kembali tanpa perang. Semua pembicaraan damai oleh Krishna dan yang lain-lain gagal, maka perang besar Mahābhārata tidak bisa dihindarkan.

Pāndava tidak ingin berperang, tetapi mereka hanya punya dua pilihan: memperjuangkan hak mereka karena itu adalah tugas mereka atau melarikan diri dari perang dan menerima kekalahan demi perdamaian dan anti kekerasan. Arjuna, salah seorang dari kelima Pāndava bersaudara, menghadapi pilihan ini di medan perang.

 

Dia harus memilih antara berperang dan membunuh guru yang paling dihormatinya, yang berada di pihak lawan. Juga teman-teman yang sangat ia sayangi, keluarga dekat, dan banyak prajurit tak berdosa. Atau dia bisa memilih melarikan diri dari medan perang demi kedamaian dan tanpa kekerasan. Delapan belas bab dari Gita merupakan pembicaraan antara Arjuna yang sedang bingung dengan sahabatnya, gurunya yang juga sepupunya --- Krishna, sang inkarnasi Tuhan --- di medan perang Kurukshetra di dekat New Delhi, India, sekitar 5.100 tahun yang lalu. Percakapan ini dilaporkan kepada raja buta, Dhristarashtra, oleh kusirnya, Sanjay, dicatat dalam epik besar, Mahabhrata.

 

Semua kehidupan, manusia atau bukan manusia itu suci, dan anti kekerasan atau Ahimsā adalah salah satu prinsip yang paling dasar dalam agama Hindu. Jadi ketika Krishna menyarankan Arjuna untuk bangkit dan melawan, hal ini mungkin membingungkanmu tentang prinsip Ahimsā jika engkau tidak mengingat latar belakang terjadinya perang Mahābhārata.

 

Ini pembicaraan rohani antara Tuhan Agung, Krishna, dengan penyembah yang juga teman-Nya, Arjuna, yang terjadi bukan di sebuah kuil, atau di hutan yang sepi, atau di puncak gunung, tapi di medan perang pada pagi hari sebelum perang dimulai.

 

Jai: Menarik sekali cerita ini nek, bisakah nenek menceritakannya lebih jauh?

 

Nenek: Baiklah. Jika engkau datang kesini setiap malam, nenek akan menceritakan seluruh cerita, satu bab setiap malam. Pastikan saja pekerjaan rumahmu sudah selesai dan engkau memiliki waktu untuk mendengarkan. Jika engkau setuju, kita mulai besok.

 

Jai: Terima kasih, nek. Aku akan datang untuk mendengar lebih banyak.

 

 

 

 

 

 

BAB 1

KEBINGUNGAN ARJUNA

 

Jai: Aku ingin tahu dulu bagaimana mulanya pembicaraan Krishna dan Arjuna yang terjadi di medan perang, nek.

 

Nenek: Ceritanya begini. Perang Mahābhārata dimulai setelah pembicaraan damai oleh Krishna dan yang lain-lain gagal untuk menghindari perang. Ketika para prajurit berkumpul di medan perang, Arjuna meminta Krishna untuk membawa keretanya di antara kedua tentara, sehingga ia bisa melihat orang-orang yang siap untuk bertempur. Melihat semua saudara, teman dan tentara di medan perang, Arjuna ngeri membayangkan akibat yang akan terjadi. Timbullah belas kasih dihatinya.

 

Jai: Apa artinya belas kasih, nek?

 

Nenek: Belas kasih tidak sama artinya dengan kasihan, Jai. Kasihan artinya melihat rendah pada orang lain sebagai orang miskin dan mahluk menyedihkan. Arjuna merasakan rasa sakit mereka seakan-akan dialaminya sendiri. Arjuna seorang pejuang besar yang telah memenangkan banyak perang dan sudah siap untuk perang, tapi tiba-tiba belas kasih membuatnya tidak ingin berperang. Dia berbicara tentang kejahatan perang dan terduduk di kursi keretanya, pikirannya penuh kesedihan. Dia melihat tidak ada gunanya pertempuran. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan.

 

Jai: Aku tidak menyalahkan dia. Aku juga tidak mau berperang. Mengapa orang-orang bertengkar, nek? Mengapa ada perang?

 

Nenek: Jai, perang tidak hanya ada di antara bangsa-bangsa, tetapi pertengkaran antara dua orang, pertengkaran antara kakak dan adik, antara suami dan istri, antara teman dan tetangga. Alasan utamanya adalah karena orang tidak dapat melepaskan rasa ego dan keinginan. Kebanyakan perang terjadi untuk memperjuangkan kepemilikan dan kekuasaan. Tapi semua masalah bisa diselesaikan secara damai jika orang bisa melihat kedua sisi dari masalah dan mencari kesepakatan. Perang harusnya menjadi pilihan terakhir. Kitab suci kita mengatakan: Orang tidak boleh melakukan kekerasan terhadap siapa pun. Pembunuhan tidak dapat dibenarkan dalam situasi apapun. Krishna mendesak Arjuna untuk memperjuangkan hak-haknya, tetapi tidak untuk membunuh secara sia-sia. Adalah tugasnya sebagai prajurit untuk berperang dan menegakkan perdamaian dan hukum dan ketertiban di bumi.

 

Kita manusia juga berperang di dalam diri kita masing-masing. Kekuatan negatif dan kekuatan positif kita selalu berperang. Kekuatan negatif dalam diri kita diwakili oleh para Kaurava dan kekuatan positif oleh para Pāndava. Gita tidak memiliki cerita di dalamnya untuk mengilustrasikan ajaran-ajaran itu, jadi nenek akan menambah beberapa cerita dari sumber-sumber lain untuk membantumu.

 

Berikut adalah sebuah cerita tentang pikiran-pikiran positif dan negatif yang saling berperang yang dikatakan Krishna sendiri kepada Arjuna dalam Mahābhārata.

 

1. Tuan Jujur

 

Ada seorang pertapa yang hebat, yang terkenal karena selalu mengatakan yang sebenarnya. Dia telah bersumpah untuk tidak berbohong dan dikenal sebagai "Tuan Jujur." Tak peduli apa yang dia katakan, semua orang percaya padanya karena ia telah mendapatkan reputasi luar biasa di masyarakat tempat ia tinggal dan melakukan praktek spiritualnya.

 

Suatu malam, seorang perampok sedang mengejar seorang pedagang untuk dirampok dan dibunuh. Pedagang itu berlari menyelamatkan hidupnya. Dia lari menuju hutan di mana pertapa ini tinggal.

 

Pedagang itu merasa sangat aman karena tidak mungkin si perampok bisa tahu di mana ia bersembunyi di hutan. Tetapi pertapa itu melihat kearah mana larinya si pedagang.

 

Para perampok datang ke pondok pertapa dan memberi hormat. Perampok itu tahu bahwa pertapa itu hanya akan mengatakan kebenaran dan dapat dipercaya, maka ia bertanya kepadanya apakah ia telah melihat seseorang melarikan diri. Pertapa itu tahu bahwa si perampok sedang mencari seseorang untuk dirampok dan dibunuh, karena itu ia menghadapi masalah besar. Jika dia mengatakan yang sebenarnya, pedagang pasti akan dibunuh. Jika ia berbohong, ia akan menanggung dosa berbohong dan kehilangan reputasinya. Setiap tindakan yang tidak bermoral dapat membahayakan orang lain disebut dosa. Ahimsā (anti kekerasan) dan kejujuran adalah dua ajaran yang paling penting dari semua agama yang kita harus ikuti. Jika kita harus memilih antara dua, mana yang harus kita pilih? Ini adalah pilihan yang sangat sulit.

 

Karena kebiasaan mengatakan yang sebenarnya, pertapa itu berkata: "Ya, aku melihat seseorang melarikan diri." Jadi, perampok berhasil menemukan pedagang dan membunuhnya. Pertapa itu sebenarnya bisa menyelamatkan hidup seseorang dengan menyembunyikan kebenaran, tetapi ia tidak berpikir dengan baik dan membuat keputusan yang salah.

Tujuan Krishna menceritakan cerita ini kepada Arjuna untuk mengajar Arjuna bahwa kadang-kadang kita harus memilih antara batu dan tempat yang keras. Krishna mengatakan kepada Arjuna bahwa pertapa bersama dengan perampok sama berdosanya karena membunuh. Perampok tidak bisa menemukan pedagang jika pertapa tidak mengatakan yang sebenarnya. Jadi ketika dua prinsip mulia bertentangan satu sama lain, kita harus tahu mana yang merupakan prinsip yang lebih tinggi. Ahimsā memiliki prioritas tertinggi, sehingga pertapa seharusnya berbohong dalam situasi ini untuk menyelamatkan kehidupan. Seseoang seharusnya tidak mengatakan suatu kebenaran yang merugikan orang lain. Tidak mudah untuk menerapkan Dharma (kebenaran) dalam situasi kehidupan nyata, karena Dharma dan Adharma (kejahatan) terkadang bisa sangat sulit untuk diputuskan. Dalam situasi seperti ini, saran ahli harus diminta.

 

Krishna memberi contoh lain tentang seorang perampok yang mendatangi sebuah desa untuk merampok dan membunuh penduduk desa. Dalam situasi ini, membunuh perampok akan menjadi sebuah tindakan anti kekerasan karena menewaskan satu orang dapat menyelamatkan banyak nyawa. Krishna sendiri, dalam beberapa kesempatan, harus membuat keputusan seperti itu untuk memenangkan perang Mahabhrata dan mengakhiri semua orang-orang yang lalim.

 

Ingat, Jai, jangan berbohong, dan jangan membunuh mahluk hidup atau menyakiti siapa pun, tapi menyelamatkan kehidupan adalah prioritas utama.

 

Bab 1 Ringkasan: Arjuna minta kepada kusir keretanya, yang juga temannya, Krishna, untuk membawa keretanya di antara dua tentara sehingga ia bisa melihat tentara Pāndava. Arjuna merasa sangat belas kasih melihat teman-temannya dan kerabat di sisi yang berlawanan yang harus ia bunuh untuk memenangkan perang. Dia menjadi bingung dan menolak untuk berperang.

 

 

BAB 2

KESADARAN TUHAN

 

Jai: Jika Arjuna merasa sangat belas kasih kepada semua orang yang seharusnya dibunuhnya dalam perang, bagaimana ia bisa berperang, nek?

 

Nenek: Itulah yang dikatakan Arjuna kepada Krishna. Dia berkata: "Bagaimana aku menyerang kakekku, guruku, dan semua kerabat dengan anak panah dalam pertempuran? Mereka selayaknya mendapat hormatku."(Gita 2,04)

Arjuna benar. Dalam budaya Veda, guru, orang tua, orang terhormat, dan semua orang yang lebih dewasa harus dihormati. Tetapi kitab suci juga mengatakan bahwa siapa pun yang bertindak salah terhadapmu atau orang lain, atau siapa pun yang mendukung perbuatan seperti itu, tidak seharusnya dihormati, tapi dihukum.

 

Arjuna bingung tentang tugasnya dan meminta bimbingan dari Krishna. Krishna kemudian memberitahukannya tentang pengetahuan sejati Atmā dan tubuh fisik.

 

Jai: Apakah Atmā itu, nek?

 

Nenek: Atmā juga disebut Roh, atau jiva. Atmā  tidak pernah dilahirkan, tidak pernah mati, dan abadi. Tubuh kita lahir dan mati, tetapi Atmā tidak. Atmā menghidupkan tubuh. Tanpa Atmā tubuh akan mati. Atmā memberikan kekuatan pada tubuh kita, pikiran, dan indera, seperti udara yang mendukung api. Senjata tidak dapat memotong Atmā, api tidak dapat membakarnya, angin tidak bisa mengeringkannya dan air tidak bisa membasahinya. Oleh karena itu, kita tidak boleh berduka atas kematian dari tubuh karena Atmā di dalam tubuh tidak pernah mati. (Gita 2.23-24)

 

Jai: Apa perbedaan antara Atmā (Roh), jiva, dan tubuh nek?

 

Nenek: Atmā yang sama bersemayam di dalam semua benda. Tubuh kita berubah seiring dengan waktu. Tubuh tua kita berbeda dari masa kanak-kanak. Tapi Atmā tidak berubah. Atmā mengambil tubuh kanak-kanak, tubuh remaja dan tubuh usia tua selama hidup ini, lalu mengambil tubuh lain setelah kematian. (Gita 2.13). Kata Sanskerta Atmā diterjemahkan sebagai spirit dalam bahasa Inggris. Roh bersifat universal dan melingkupi semua. Kata Inggris Roh atau jiva juga berarti Roh yang berada dalam tubuh individu. Dalam bahasa Sanskerta, jiva individu ini kita sebut Jivātmā atau jiva (juga dieja sebagai jeeva). Jika Roh diandaikan dengan hutan, jiva individu (Roh atau jiva) dapat diandaikan dengan pohon di hutan.

 

Tubuh disebut pakaian Atmā. Seperti halnya kita menyingkirkan pakaian tua, usang dan mengenakan pakaian yang baru, Atmā meninggalkan tubuh yang lama dan mengambil yang baru setelah kematian. Jadi kematian itu seperti mengganti pakaian bagi Atmā (Gita 2.22) Semua mahluk terlihat antara kelahiran dan kematian; mereka tidak bisa dilihat sebelum lahir atau setelah mati dan tetap dalam bentuk kasat mata. (Gita 2.28) Oleh karena itu, kita tidak boleh berduka atas kematian tubuh. Kita bukan tubuh. Kita Atmā dengan tubuh. Kematian hanya berarti jiva kita berpindah dari satu tubuh ke tubuh baru yang lain.

 

Jai: Lalu mengapa Arjuna berduka atas kematian orang yang dicintai di medan perang? Kenapa dia tidak ingin bertempur?

 

Nenek: Arjuna adalah ksatria yang sangat tangguh, Jai, tapi dia ingin melarikan diri dari kengerian perang dan menjalani kehidupan mudah sebagai Samnyāsi, seorang pertapa pengembara. Krishna mengajarkan kita untuk menghadapi perjuangan hidup dengan memberi Arjuna ilmu yang indah, yaitu KarmaYoga, seni hidup damai dan sejahtera. Bab 3 dari Gita mengajarkan kita lebih banyak tentang hal ini. Arjuna mengkhawatirkan akibat perang, tapi Krishna meminta kita untuk melakukan kewajiban kita tanpa terlalu khawatir dengan hasilnya, seperti keuntungan dan kerugian, kemenangan dan kekalahan, keberhasilan dan kegagalan. Jika engkau terus-menerus khawatir tentang hasil studimu, engkau tidak akan dapat menumpahkan hati dan jivamu padanya karena takut akan kegagalan. 

 

Jai: Tapi nek, bagaimana Arjuna bisa melawan dengan baik jika dia tidak berjuang untuk menang dan mendapatkan sesuatu?

 

Nenek: Arjuna harus berjuang untuk menang, tapi dia seharusnya tidak melemahkan kehendaknya dengan mengkhawatirkan hasil pada saat ia sedang berperang. Ia harus menumpahkan semua perhatian dan energi ke setiap menit perkelahian. Energi itulah yang akan membawa hasil terbesar.

 

Krishna mengatakan kepada kita bahwa kita memiliki kontrol penuh atas tindakan kita, tetapi tidak ada kontrol atas hasil tindakan kita. (Gita 2,47) Harry Bhalla mengatakan: Seorang petani memiliki kontrol atas cara ia mengerjakan tanahnya, namun tidak bisa mengontrol panen. Tapi ia tidak bisa mengharapkan panen jika ia tidak mengerjakan tanahnya dengan usaha terbaik dan dengan alat yang ia miliki.

 

Kita harus melakukan yang terbaik pada saat sekarang dan membiarkan masa depan mengurus dirinya sendiri.

 

Jai: Bisakah nenek menceritakan lebih banyak tentang rahasia sukses seperti yang dikisahkan oleh Krishna kepada Arjuna?

 

Nenek: Kita harus benar-benar menyatu sewaktu bekerja atau belajar sampai tidak menyadari hal-hal lain, bahkan hasil-hasilnya. Untuk mencapai hasil terbaik dari apa yang kita lakukan, kita harus fokus pada tindakan dengan perhatian penuh. Ini harus dilakukan dengan tulus tanpa khawatir tentang hasilnya. Hasil dari tindakan akan lebih besar jika kita menumpahkan semua perhatian dan energi ke dalam tindakan itu sendiri dan tidak membiarkan energi kita dialihkan dengan memikirkan hasil. Hasilnya akan tergantung pada energi yang dimasukkan ke dalam tindakan. Kita diminta untuk tidak perlu khawatir tentang hasil selama melakukan tindakan. Ini tidak berarti bahwa kita tidak peduli dengan hasil. Namun kita tidak seharusnya hanya mengharapkan hasil positif saja sepanjang waktu.

 

Rahasia hidup yang bermakna adalah menjadi sangat aktif, dan melakukan yang terbaik tanpa memikirkan diri kita sendiri atau bahkan hasilnya. Orang yang tercerahkan bekerja untuk kebaikan semua.

 

Jai: Apa yang dimaksud dengan orang yang tercerahkan, nek?

 

Nenek: Orang yang tercerahkan adalah orang yang sempurna, Jai. Krishna mengatakan kepada kita pikiran orang yang sempurna tidak terguncang oleh kesulitan, tidak memburu kesenangan, bebas dari rasa takut, keinginan, keserakahan, dan keterikatan, dan memiliki kendali atas pikiran dan indera. (Gita 2,56) Orang yang tercerahkan tidak marah, damai dan bahagia.

 

Jai: Bagaimana kita bisa menahan marah, nek?

 

Nenek: Kita marah jika keinginan kita tidak terpenuhi. (Gita 2,62) Jadi cara terbaik untuk mengontrol amarah adalah mengontrol atau membatasi keinginan kita. Kita seharusnya tidak menginginkan terlalu banyak hal. Keinginan dimulai dalam pikiran, jadi kita harus mengendalikan pikiran kita. Jika kita tidak mengendalikan pikiran kita, kita hanyut seperti kapal tanpa kemudi. Keinginan untuk bersenang-senang menjerumuskan orang ke lorong gelap dosa, menyebabkan kita dalam kesulitan, dan menghalangi kemajuan spiritual kita. (Gita 2.67) Sebagai siswa, engkau harus menetapkan tujuan yang lebih tinggi untuk diri sendiri daripada sekedar mengejar kesenangan. Lakukan upaya terbaik dan berkonsentrasilah pada studimu.

 

Arjuna adalah contoh yang sangat baik dalam hal konsentrasi. Berikut ini adalah cerita tentang dirinya.

 

 

2. Ujian Kelulusan

 

Guru Drona adalah guru perang bagi para Kaurava dan Pāndava. Pada akhir pembelajaran perang tibalah waktu ujian akhir. Drona meletakkan elang kayu di cabang pohon terdekat. Tidak ada yang tahu itu hanya sebuah boneka, karena tampak seperti elang asli. Untuk lulus ujian, setiap orang diharuskan untuk memotong kepala elang dengan sekali panah.

Guru Drona pertama minta Yudistira, anak tertua dari Pāndava: "Bersiaplah, lihatlah elang itu, dan katakan padaku apa yang engkau lihat."

 

Yudistira menjawab: "Aku melihat langit, awan, batang pohon, dahan-dahan, daun-daun dan elang duduk di sana"

 

Guru Drona tidak terlalu senang dengan jawaban ini. Dia menanyakan hal yang sama kepada semua siswa, satu demi satu. Setiap dari mereka memberikan jawaban serupa. Kemudian tibalah giliran Arjuna untuk ujian.

 

Drona berkata kepada Arjuna: "Bersiaplah, lihatlah elang itu, dan ceritakan apa yang engkau lihat."

 

Arjuna menjawab: "Aku hanya melihat elang dan tidak ada yang lain."

 

Drona kemudian mengajukan pertanyaan kedua: "Jika engkau hanya melihat elang, katakan padaku seberapa kuat tubuhnya dan apa warna sayapnya?"

 

Arjuna menjawab: "Aku hanya melihat kepalanya dan tidak seluruh tubuhnya."

 

Guru Drona sangat senang dengan jawaban Arjuna dan memintanya untuk melanjutkan tes. Arjuna dengan mudah memotong kepala elang dengan sekali panah karena ia sedang berkonsentrasi pada tujuannya dengan satu pikiran. Dia lulus ujian dengan baik.

 

Arjuna tidak hanya prajurit terbesar pada zamannya, tetapi juga seorang KarmaYogi yang penuh kasih. Krishna memilih Arjuna sebagai alat untuk menyampaikan pengetahuan suci Gita.

 

Kita semua harus mengikuti contoh Arjuna. Membaca Gita dan menjadi seperti Arjuna. "Arjuna Bano,  Arjuna Bano," Cucuku sayang! Apa pun pekerjaan yang engkau lakukan, lakukanlah dengan perhatian penuh dan curahkan seluruh hati dan pikiranmu ke dalamnya. Ini adalah tema utama dari KarmaYoga Gita dan rahasia sukses dalam apa pun yang engkau lakukan.

 

Sebuah pesan untuk para pemuda dari Swami Vivekananda: "Apa pun yang engkau lakukan, curahkan seluruh pikiran di dalamnya. Jika engkau menembak, pikiranmu harus hanya pada target. Maka engkau tidak akan pernah gagal. Jika engkau belajar, hanya pikirkan pelajaran. Di India, anak laki-laki dan perempuan diajarkan untuk melakukan hal ini".

 

Bab 2 Ringkasan: Krishna mengajarkan kita, melalui Arjuna, perbedaan antara Atmā dan tubuh. Kita adalah Atmā dengan tubuh. Atmā tidak dilahirkan dan tidak bisa dihancurkan. Satu Atmā yang sama bersemayam di dalam semua benda, manusia atau bukan manusia. Jadi kita semua terhubung satu sama lain. Kita harus melakukan tugas kita sebaik-baiknya tanpa khawatir tentang keberhasilan atau kegagalan. Kita harus belajar dari kegagalan kita dan maju tanpa membiarkan kegagalan kita mengalahkan kita. Untuk menjadi orang yang sempurna, kita perlu mengendalikan atau membatasi keinginan kita.

 

 

BAB 3

KARMA-YOGA, JALAN TUGAS (PELAYANAN TANPA PAMRIH)

 

Jai: Mengapa kita harus mengendalikan keinginan kita, nek?

 

Nenek: Bila engkau memilih jalan yang salah (untuk mengejar kenikmatan), engkau harus menerima akibatnya. Itu sebabnya pekerjaan harus dilakukan untuk kesejahteraan semua dan bukan hanya untuk memuaskan keinginanmu atau untuk keuntungan pribadi. Seorang yang melakukan praktek KarmaYoga disebut KarmaYogi. Seorang KarmaYogi menemukan cara yang tepat untuk melayani dan menjadikan karyanya sebagai pemujaan. Dalam KarmaYoga, tidak ada pekerjaan yang lebih penting atau kurang penting daripada pekerjaan lain.

 

Jai: Paman Hari meninggalkan keluarga dan rumahnya dan pergi ke sebuah Ashram tahun lalu untuk mencari Tuhan. Apakah kita harus meninggalkan rumah untuk mencari Tuhan?

 

Nenek: Tidak. Dalam Gita, Krishna telah memberi kita jalan untuk menyadari adanya Tuhan. Jalan yang engkau pilih tergantung pada sifatmu. Secara umum, ada dua jenis orang di dunia: tipe pendiam (serius, introvert) dan tipe aktif. Untuk orang introvert seperti Paman Hari, jalan kesadaran rohani adalah yang terbaik. Pengikut jalan ini pergi ke guru spiritual atau seorang guru di mana mereka belajar kitab suci Veda di bawah bimbingan yang tepat. Di jalan ini, kita belajar siapa diri kita dan bagaimana kita dapat menjalani hidup bahagia dan damai.

 

Jai: Apakah kita harus membaca semua kitab suci untuk memahami dan menyadari Tuhan?

Nenek: Ada banyak kitab suci dalam agama kita, seperti 4 Veda, 108 Upanishad, 18 Purāna, Rāmāyana, Mahābhārata, berbagai Sutra dan banyak lainnya. Membaca semua sulit bagi kita. Krishna telah memberi kita semua yang perlu kita ketahui tentang Tuhan dalam Gita. Gita mengandung esensi dari semua Veda dan Upanishad untuk jaman modern ini.

 

Jai: Paman Puri adalah seorang petani dan tidak memiliki minat dalam mempelajari Gita. Dia mengatakan Gita sulit dan tidak untuk orang-orang biasa seperti dia. Jadi bagaimana Paman Puri bisa menyadari Tuhan?

 

Nenek: Paman Puri harus mengikuti jalan kedua, jalan KarmaYoga yang dijelaskan dalam Gita, pada bab ini. Ini adalah jalan tugas atau pelayanan tanpa pamrih. Jalan ini lebih baik bagi kebanyakan orang yang bekerja keras untuk mendukung keluarga dan tidak punya waktu atau minat untuk membaca kitab suci. Pengikut jalan ini tidak harus meninggalkan pekerjaan dan pergi ke sebuah Ashram. Mereka memasrahkan hasilnya dan melakukan pekerjaan untuk kebaikan masyarakat, bukan hanya untuk diri mereka sendiri.

 

Jai: Tetapi orang-orang akan bekerja lebih keras jika mereka mempunyai keinginan pribadi, bukankah begitu, nek?

 

Nenek: Memang benar orang akan menghasilkan lebih banyak jika mereka bekerja untuk memenuhi keinginan pribadi, tetapi mereka tidak akan menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang permanen. Hanya mereka yang melakukan tugas tanpa pamrih untuk kebaikan semua orang akan menemukan kedamaian dan kepuasan sejati.

 

Jai: Jika orang tidak bekerja untuk keuntungan pribadi, apakah mereka masih melakukan yang terbaik dan tidak menjadi malas?

 

Nenek: KarmaYogi sejati bekerja keras bahkan tanpa keuntungan pribadi. Hanya orang yang bodoh bekerja hanya untuk keuntungan pribadi. Dunia bisa berjalan lancar karena orang-orang melakukan tugas mereka. Orangtua bekerja keras untuk mendukung keluarga mereka, dan anak-anak melakukan bagian mereka. Tak seorang pun dapat tetap tidak aktif atau diam sepanjang waktu. Kebanyakan orang terlibat dalam beberapa kegiatan dan melakukan apa yang mereka bisa. Brahmā, sang pencipta, memberikan pelajaran pertama kepada manusia ketika berkata: Biarlah semua orang maju dan sejahtera dengan membantu sesama dan dengan melakukan tugasmu dengan benar. (Gita 3.10-11)

 

Jai: Apa yang terjadi jika orang bekerja keras hanya untuk keuntungan mereka sendiri?

Nenek: Mereka melakukan dosa, Jai. Suatu kesalahan jika melakukan tindakan secara egois tanpa mempertimbangkan efeknya pada orang lain. Krishna menyebut orang seperti itu pencuri, tidak berguna, dan berdosa. (Gita 3.12-13) Kita tidak boleh bekerja hanya untuk diri kita sendiri. Kita harus membantu dan melayani satu sama lain.

 

Jai: Apa keuntungan seseorang yang mengikuti ajaran Tuhan Brahmā dan bekerja untuk kebaikan masyarakat?

 

Nenek: Orang seperti itu mencapai kedamaian dan kesuksesan dalam hidup ini, mencapai Tuhan setelah mati dan tidak lahir lagi di dunia ini.

 

Berikut ini adalah kisah modern bagaimana pelayanan tanpa pamrih, dibahas dalam Bab 3, bisa terjadi secara ajaib dalam hidup.

 

 

3. Sir Alexander Fleming

 

Tersebutlah seorang petani Skotlandia yang miskin. Suatu hari, sewaktu sedang bekerja untuk menghidupi keluarganya, ia mendengar teriakan minta tolong yang berasal dari rawa terdekat. Dia melemparkan alatnya dan berlari ke rawa. Di sana, dilihatnya seorang anak laki-laki ketakutan, tenggelam sampai ke pinggang di rawa, berteriak-teriak dan berjuang untuk membebaskan dirinya. Petani Fleming menyelamatkan anak itu dari kemungkinan mati tenggelam secara perlahan dan menakutkan.

 

Keesokan harinya, sebuah kereta mewah berhenti di depan rumah sederhananya. Seorang bangsawan berpakaian bagus melangkah keluar dan memperkenalkan dirinya sebagai ayah dari anak laki-laki yang telah diselamatkan Fleming.

 

"Aku ingin berterima kasih dan membalas kebaikan Anda," kata si bangsawan. "Anda telah menyelamatkan hidup anakku."

 

"Aku tidak bisa menerima bayaran atas apa yang aku lakukan," jawab petani Skotlandia itu, menolak tawaran tersebut.

 

Pada saat itu, anak si petani masuk ke pintu gubuk.

"Apakah itu anak Anda?" tanya bangsawan.

 

"Ya," jawab petani dengan bangga.

 

"Aku akan membuat kesepakatan. Biarkan aku memberikan pendidikan padanya setingkat dengan pendidikan anakku. Jika anak itu seperti ayahnya, dia akan tumbuh menjadi seorang laki-laki yang dapat kita berdua banggakan."

 

Dan itu ia lakukan. Anak petani Fleming mengikuti pendidikan di sekolah terbaik dan lulus dari St Mary's Hospital Medical School di London dan kemudian menjadi terkenal di seluruh dunia sebagai Sir Alexander Fleming, penemu Penisilin.

 

Bertahun-tahun kemudian, anak bangsawan yang sama yang diselamatkan dari rawa itu terserang radang paru-paru. Apa yang menyelamatkan nyawanya ? Penisilin. Dan nama bangsawan itu? Lord Randolph Churchill. Nama putranya? Sir Winston Churchill yang terkenal.

 

Ada dikatakan: Apa yang disemai akan dituai. Ini adalah hukum universal Karmā, hukum sebab dan akibat. Dengan membantu memenuhi mimpi seseorang, maka impianmu akan dipenuhi juga oleh Tuhan!

 

Jai: Tolong beri aku contoh-contoh KarmaYogi sejati, nek.

 

Nenek: Engkau telah membaca kisah Rāmāyana. Ayah mertua Rāma adalah Janaka, Raja Janakapur. Ia mencapai Tuhan dengan melayani umat-Nya sebagai anak-anaknya sendiri, tanpa pamrih dan tanpa keterikatan pada hasil-hasil tindakannya. Dia melakukan tugasnya sebagai sebuah pemujaan kepada Tuhan. Pekerjaan yang dilakukannya tanpa pamrih. Hanya melaksanakan tugas, menjadi pemujaan kepada Tuhan, karena membantu Tuhan menjalankan dunia.

 

Mahātmā Gandhi seorang KarmaYogi sejati, yang bekerja tanpa pamrih dan tanpa motif pribadi seumur hidupnya, hanya untuk kebaikan masyarakat. Dia memberi contoh bagi para pemimpin dunia lain untuk mengikutinya. Ada banyak contoh lain orang tanpa pamrih.

 

Jai: Begitukah seharusnya para pemimpin kita bekerja?

 

Nenek: Ya, seorang KarmaYogi yang benar menunjukkan contoh pribadi bagaimana menjalani hidup tanpa pamrih dan mencapai Tuhan dengan mengikuti jalan KarmaYoga. (Gita 3.21)

 

Jai: Jika aku ingin menjadi KarmaYogi, apa yang harus aku lakukan?

 

Nenek: KarmaYoga mengharuskan kita melakukan tugas dalam hidup kita dengan sebaik-baiknya, tidak egois dan tanpa keterikatan dengan hasilnya. Seorang KarmaYogi tetap tenang dalam kesuksesan dan kegagalan dan tidak memiliki perasaan suka atau tidak suka pada seseorang, tempat, benda, atau pekerjaan. Pekerjaan yang dilakukan sebagai pelayanan tanpa pamrih untuk kesejahteraan umat manusia tidak menghasilkan Karmā baik atau buruk dan membawa seseorang kepada Tuhan.

 

Jai: Sulit untuk bekerja tanpa ingin mendapatkan sesuatu secara pribadi. Bagaimana kita melakukan ini, nek?

 

Nenek:  Seseorang yang tidak mengerti jalan spiritual bekerja hanya untuk diri mereka sendiri. Orang bijak bekerja untuk kesejahteraan semua. Orang bodoh bekerja untuk menikmati hasil kerja mereka dan menjadi melekat padanya karena mereka pikir mereka adalah pelaku. Mereka tidak menyadari bahwa semua kerja yang dilakukannya karena kuasa Tuhan yang diberikan kepadanya. Dengan kekuatan untuk melakukan tugas dan intelek untuk memilih antara tindakan yang benar dan salah, kita bertanggung jawab atas tindakan kita. Orang bertindak keliru karena mereka tidak menggunakan kecerdasan mereka dan tidak memikirkan hasil tindakan mereka terhadap orang lain.

 

Orang bijak mempersembahkan semua pekerjaan mereka kepada Tuhan tanpa menginginkan hasil untuk diri mereka sendiri. Orang bodoh bekerja hanya untuk memenuhi hasrat pribadi mereka. (Gita 3.25)

 

Jai: Dapatkah orang biasa sepertiku melakukan apa yang orang-orang hebat seperti Raja Janaka dan Mahātmā Gandhi lakukan?

 

Nenek: Dengan usaha, siapa pun dapat mengikuti jalan KarmaYoga. Pikirkan bahwa semua pekerjaan apapun yang sedang engkau lakukan sebagai hadiah bagi masyarakat. Jika engkau seorang mahasiswa, tugasmu adalah bersekolah, mengerjakan pekerjaan rumah, menghormati orangtua, guru, dan orang tua lain, dan membantu saudara-saudara, teman dan teman sekelas. Sebagai mahasiswa, persiapkan diri untuk menjadi warga negara yang baik dan produktif dengan memperoleh pendidikan yang baik.

 

Jai: Apa jenis pekerjaan yang harus aku lakukan ketika aku lulus, nek?

Nenek: Pilihlah pekerjaan yang engkau sukai dan dapat engkau lakukan dengan baik. Pekerjaanmu harus sesuai dengan sifatmu. (Gita 3,35, 18,47) Jika engkau memilih pekerjaan yang bukan merupakan keahlianmu atau yang tidak menjadi daya tarikmu maka peluang suksesmu akan terbatas. Engkau tahu apa yang dapat engkau lakukan dengan baik. Mencoba menjadi orang lain merupakan penyebab terbesar kegagalan dan ketidakbahagiaan.

 

Jai: Tapi tidak bolehkah aku mencoba mencari pekerjaan yang baik, seperti teknik, mengajar atau di pemerintahan?

 

Nenek: Tidak ada yang namanya pekerjaan baik atau buruk. Semua jenis pekerjaan diperlukan agar semua bisa tetap berjalan. Beberapa pekerjaan dibayar lebih daripada yang lain, tetapi pekerjaan dengan gaji yang lebih tinggi biasanya lebih sulit dan lebih menyebabkan stres jika engkau tidak memenuhi syarat untuk melakukan pekerjaan itu. Jika engkau memenuhi syarat untuk pekerjaan dengan gaji lebih rendah, jalani hidup sederhana dan hindari keperluan yang tidak perlu. Hidup sederhana berarti tidak menginginkan terlalu banyak materi. Batasi dirimu untuk kebutuhan dasar kehidupan. Kendalikan keinginanmu. Sang Buddha berkata: Keinginan adalah penyebab dari segala kejahatan dan penderitaan.

 

Jai: Apakah keinginan merupakan alasan mengapa orang melakukan perbuatan buruk?

 

Nenek: Ya Jai, keinginan kita untuk kenikmatan adalah penyebab dari segala kejahatan. Jika kita tidak mengendalikan keinginan kita maka keinginan kita yang akan mengendalikan kita, dan kita akan menjadi korban keinginan kita sendiri. Kontrol keinginanmu karena apa pun yang engkau inginkan, juga menginginkanmu!

 

Jai: Kalau begitu, apakah semua keinginan buruk?

 

Nenek: Tidak, tidak semua keinginan buruk. Keinginan untuk melayani orang lain adalah suatu keinginan luhur. Keinginan untuk menikmati kesenangan itu buruk karena dosa dan mengarah pada kegiatan-kegiatan ilegal. Selalu ingat bahwa hasrat tidak akan pernah berakhir setelah engkau mendapatkan apa yang engkau inginkan. Keinginan baru akan muncul lagi dan ini mengarah pada keserakahan. Dan jika engkau tidak mendapatkan apa yang engkau inginkan, maka engkau menjadi marah. Orang bisa melakukan hal-hal buruk ketika mereka marah.

 

Jai: Bagaimana kita bisa mengendalikan keinginan kita untuk menikmati kesenangan?

Nenek: Salah satu cara adalah dengan pengetahuan yang diberikan dalam Gita dan dengan kekuatan pikiran. Sebelum engkau mengikuti keinginanmu, selalulah pikirkan hasil tindakan itu. Keinginan dimulai dalam pikiran dan tinggal di sana. Engkau dapat mengendalikan pikiran dengan kecerdasan dan penalaranmu.

 

Ketika masih muda, pikiranmu menjadi kotor seperti air jernih dalam kolam yang menjadi keruh selama musim hujan. Jika kecerdasanmu tidak mengendalikan pikiranmu, maka pikiran akan berjalan menuju kenikmatan rasa. Hal ini akan mencegahmu mencapai tujuan-tujuan hidup yang lebih tinggi. Jadi tetapkan tujuan yang tinggi dalam kehidupan untuk menjaga pikiran tidak menjadi kotor oleh kesenangan sensual seperti merokok, alkohol, narkoba, dan kebiasaan buruk lainnya. Kebiasaan buruk sangat sulit untuk disingkirkan. Jadi hindarilah kebiasaan itu dari awal. Bergaullah dengan orang baik, baca buku yang baik, hindari orang jahat, dan pikirkan akibat jangka panjang dari tindakanmu.

 

Jai: Nek, setelah kita bisa membedakan yang benar dan yang salah, mengapa kita tidak bisa menghindari melakukan kesalahan?

 

Nenek: Jika kita tidak mengendalikan pikiran kita, pikiran akan mencoba melemahkan kita dan membawa kita ke jalan yang salah dengan mengejar kesenangan sensual. Kita harus mengawasi pikiran kita dan tetap di dalam jalur yang benar.

 

Bab 3 Ringkasan: Tuhan Krishna menyebutkan dua jalan utama untuk kedamaian dan kebahagiaan hidup. Jalan yang dipilih tergantung pada masing-masing individu. Lebih mudah bagi kebanyakan orang untuk mengikuti jalan KarmaYoga, jalan pelayanan tanpa pamrih. Untuk membantu satu sama lain adalah ajaran pertama sang pencipta. Hal ini menyebabkan kehidupan terus berjalan dan masyarakat semakin maju. Kita semua harus melakukan tugas kita sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuan kita. Pilihlah karir yang paling sesuai dengan sifatmu. Tidak ada pekerjaan yang kecil. Bukan apa yang engkau lakukan, tapi bagaimana engkau melakukannya, itu yang penting. Akhirnya, Krishna mengatakan bahwa kita harus mengendalikan keinginan kita untuk mengejar kesenangan. Hasrat untuk mencari kesenangan yang tidak terkontrol akan membawa kita kepada kegagalan dan penderitaan dalam hidup. Kita harus berpikir mengenai hasil dari suatu tindakan sebelum mengambil tindakan itu. Dengan segala cara, hindari berteman dengan orang jahat.

 

 

BAB 4

JALAN PENGINGKARAN DIRI DENGAN KESADARAN

 

Jai: Dalam Gita dijelaskan tentang kejadian di medan perang. Siapa sesungguhnya penulisnya nek?

 

Nenek: Ajaran Gita berusia sangat tua. Pertama diturunkan kepada Deva Surya oleh Sri Krishna. Setelah beberapa warsa, pengetauan ini hilang. Gita yang kita pelajari sekarang merupakan pelajaran yang diberikan Krishna kepada Arjuna, 5,100 tahun yang lalu.

 

Jai: Jadi Sri Krishna penulisnya?

 

Nenek: Ya, Sri Krishna adalah pengarang Gita. Disusun oleh Rsi Vayāsa yang juga menyusun ke empat Veda. Rsi Vayāsa memiliki kekuatan untuk melihat kejadian di masa lalu dan masa datang, tapi dia tidak bisa melakukan kedua pekerjaan yaitu mengingat Gita yang diturunkan Krisna dalam medan perang sambil menuliskannya. Dia memerlukan seseorang untuk menulisnya. Deva Ganesha, sang Deva kebijaksaan, menawarkan diri untuk menuliskannya.

                                                                                                                           

Gita yang pertama kalinya diterjemahkan dari puisi Sanskerta yang asli ke dalam prosa beserta penjelasannya dilakukan oleh Maha Guru Adi Sankarāchārya sekitar 800 tahun sebelum masehi.

 

Jai: Kenapa Sri Krishna sangat penting?

 

Sri Krishna adalah inkarnasi Tuhan yang ke delapan. Tuhan turun ke dunia mengambil wujud yang berbeda dari waktu ke waktu bila kejahatan mulai mengganggu ketentraman dunia. Tuhan datang untuk meluruskannya. Beliau juga mengirim para nabi dan guru untuk membantu manusia. Kelahiran dan kegiatannya nyata dan setiap inkarnasi Avatāra datang dengan tujuan yang pasti. Dalam Shrimad Bhāgavatam (atau Bhāgavad Purāna) dijelaskan secara rinci kesepuluh Avatāra Utama Tuhan. Buddha, Moses, Jesus, Mohammad dan para nabi yang lain dari berbagai kepercayaan juga termasuk inkarnasi Tuhan dalam ruang lingkup yang lebih kecil. Pada akhir jaman yang dikenal dengan Kali Yuga, inkarnasi Kalki akan datang dari masa depan yang sangat jauh.

 

Jai: Apakah Sri Krishna akan memberikan apapun yang kita minta dalam doa atau pemujaan?

 

Nenek: Ya, Sri Kirshna akan memberikan engkau apa yang engkau inginkan (Gita 4.11), seperti keberhasilan dalam studi, jika engkau memujanya dengan penuh kepercayaan. Seseorang boleh saja berdoa dan memuja Tuhan dengan segala macam nama dan bentuk. Bentuk yang diambil Tuhan disebut diety. Seseorang juga bisa memuja Tuhan tanpa bantuan bentuk.

Jai: Apakah kita masih harus belajar kalau ingin mendapat nilai bagus dalam ujian?

 

Nenek: Ya, engkau harus melakukan tugasmu. Lakukan yang terbaik kemudian berdoa. Tuhan tidak akan melakukannya untukmu. Engkau harus melakukan tugasmu. Tugasmu haruslah bebas dari keinginan mementingkan diri dan tidak menyakiti siapapun. Dengan demikian engkau akan terbebas dari ikatan Karmā.

 

Jai: Apa itu Karmā, nek?

 

Nenek: Karmā berasal dari kata Sanskerta yang berarti perbuatan. Karmā juga berarti hasil perbuatan. Kata 'Karmā' sering diucapkan salah yaitu 'Karmā'. Setiap perbuatan ada hasilnya yang disebut Karmā, bisa baik dan bisa buruk. Jika kita melakukan perbuatan hanya untuk kenikmatan kita saja, kita bertanggung jawab terhadap hasilnya. Jika perbuatan kita menyakiti seseorang, kita akan mendapat Karmā buruk, yang disebut juga dosa, dan kita akan menderita di neraka karenanya. Jika kita berbuat baik kepada orang, kita mendapat Karmā baik dan akan memperoleh pahala dan mendapat surga.

 

Karmā kita bertanggung jawab atas kelahiran kita apakah kita akan bahagia atau menderita yang merupakan hasil dari perbuatan kita. Karmā bisa diumpamakan kita mendepositkan uang yang berupa perbuatan baik dan buruk di bank. Kita tidak akan terlahir kembali bila semua Karmā kita sudah dilaksanakan. Kebebasan dari lingkaran kelahiran dan kematian disebut kebebasan, Nirvāna, Moksha atau Mukti. Pada saat Mukti, seseorang akan menyatu dengan Tuhan.

 

Jai: Bagaimana kita bisa menghindari Karmā semasih hidup dan bekerja dalam masyarakat?

 

Nenek: Cara terbaik agar tidak mendapat Karmā adalah dengan tidak melakukan apapun untuk diri sendiri, tapi lakukan untuk kepentingan masyarakat. Ingatlah selalu bahwa alam melakukan semuanya, sesungguhnya bukan kita pelakunya. Jika kita sangat mempercayai hal ini dan bertindak sebagai abdi Tuhan, kita tidak akan mendapat Karmā, dan Karmā masa lalu kita akan terhapus dengan kesadaran diri sejati. Ketika semua Karmā habis, kita terbebas. Cara menyatu dengan Tuhan ini disebut tindakan tanpa mementingkan diri (KarmaYoga).

 

Jai: Bagaimana cara kita menghilangkan Karmā dari kelahiran sebelumnya?

 

Nenek: Ini pertanyaan yang sangat baik! Kesadaran diri sejati (atau Kesadaran Tuhan) sama seperti api yang menghanguskan semua Karmā masa lalu. (Gita 4.37). Tindakan tanpa mementingkan diri (KarmaYoga) mempersiapkan seseorang untuk menerima kesadaran diri sejati. Seorang KarmaYogi secara otomatis mendapatkan kesadaran diri sejati pada saatnya. (Gita 4.38). Seseorang dengan kesadaran diri sejati tentang dirinya dan Tuhan disebut orang dengan kesadaran diri atau berkesadaran Tuhan.

 

Jai: Adakah cara lain untuk mencapai kebebasan, nek?

 

Nenek: Ada Jai, ada beberapa cara untuk mencapai Tuhan. Cara ini disebut jalan spritual atau Sādhanā. Segala kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat disebut Yajna, Sevā atau pengorbanan. Jenis Yajna antara lain: (1) memberikan uang untuk tujuan yang baik, (2) bermeditasi, melakukan pemujaan dan yoga, (3) membaca kitab suci untuk mendapatkan kesadaran Tuhan, dan (4) mengontrol pikiran serta panca indera. (Gita 4.28)

 

Tuhan senang pada orang yang secara tulus melakukan salah satu dari Yajna ini dan berkenan memberikan hadiah yang berupa kesadaran diri untuk mencapai Tuhan. Orang yang demikian akan menjadi bahagia dan damai. (Gita 4.39).

 

Jai: Bagaimana dengan orang yang memuja lambang Tuhan setiap hari? Apakah mereka juga bisa menyatu dengan Tuhan?

 

Nenek: Ya, orang yang memuja lambang Tuhan dengan tulus akan menerima apapun yang dia inginkan. (Gita 4.11-12). Kebanyakan orang Hindu memuja Tuhan dengan bentuk yang disukainya untuk memenuhi keinginannya. Cara ini disebut jalan doa dan pemujaan. Ada sebuah cerita dalam kisah Mahābhārata tentang seorang KarmaYogi yang sangat berbakti dan merupakan murid ideal yang memuja gurunya untuk memperoleh yang diinginkannya.

 

 

4. Ekalavya, murid yang ideal

 

Guru Dronāchārya (atau Drona) adalah pengajar ilmu perang yang dipilih Kakek Bhishma untuk mengajar semua Kaurava dan Pāndava bersaudara. Beberapa pangeran lain juga belajar padanya. Drona sangat puas dengan pengabdian Arjuna dan dia berjanji pada Arjuna: "Aku akan mengajarmu agar menjadi pemanah terbaik di dunia".

 

Suatu hari seorang anak remaja bernama Ekalavya dari desa dekat Ashram datang kepada Guru Drona ingin belajar keahlian memanah. Dia mendengar dari ibunya tentang pemanah terbaik Dronāchārya, putra dari Rsi Bhāradvāja dan murid Rsi Parashurāma.

 

Ekalavya adalah seorang anak yang kesehariannya di hutan, berasal dari keluarga pemburu. Pada waktu itu, bahkan pada jaman ini, keluarga pemburu dianggap sebagai masyarakat rendah. Drona bingung bagaimana caranya mengajar pemuda dari keluarga pemburu dengan para putra mahkota. Jadi beliau memutuskan untuk tidak mengajarkan ilmu memanah pada anak ini, seraya berkata: "Nak, akan sangat sulit bagiku untuk mengajarmu. Engkau terlahir dengan keahlian pemanah. Kembalilah ke hutan dan berlatihlah dengan kemauan yang dalam. Engkau juga muridku. Semoga engkau menguasai ilmu memanah sesuai dengan keinginanmu."

 

Kata-kata Drona merupakan anugrah bagi Ekalavya. Dia mengerti keadaan dirinya dan yakin doa sang guru menyertainya. Dia membuat patung Dronāchārya dari tanah liat, menaruhnya di tempat terbaik di pondoknya, dan mulai memuja patung tersebut dengan hormat, dengan mempersembahkan bunga dan buah. Dia memuja patung gurunya setiap hari, berlatih memanah dan akhirnya menguasai ilmu memanah dengan sangat baik.

 

Ekalavya bangun pagi hari setiap hari, mandi dan melakukan pemujaan. Dia selalu mengenang kata-kata, tindakan dan ilmu Guru Drona yang dilihatnya di Ashram sang Guru. Dia dengan sangat yakin mengikuti perintah sang guru dan terus berlatih.

 

Sementara Arjuna secara langsung menguasai ilmu memanah dari Drona, Ekalavya mencapai tingkat keahlian yang sama dari jarak jauh. Kalau dia tidak mengerti salah satu tehnik memanah, dia akan segera mengahadap ke patung Drona, mengatakan masalahnya, dan menunggu dalam meditasinya sampai pertanyaannya terjawab. Kemudian dia melanjutkan latihannya.

 

Cerita Ekalavya membuktikan bahwa seseorang bisa mencapai apapun dalam hidup jika yakin dan bekerja keras mencapainya. Selanjutnya, diceritakan tentang pangeran Kaurava dan Pāndava pada suatu hari berburu di hutan. Ekalavya, seorang pemuda dengan kulit hitam, menggunakan baju dari kulit harimau dan kalung kulit kerang, sedang berlatih memanah dengan serius. Anjing pemburu yang menyertai para putra mahkota menggonggongnya. Mungkin dengan maksud memperlihatkan keahliannya, Ekalavya melepaskan tujuh anak panahnya ke rahang anjing yang sedang menggonggong dan semua anak panah tersebut menancap di mulut anjing itu. Anjing itu lari menuju tuannya.  Para putra mahkota sangat terkejut melihat keahlian orang yang memanah anjing itu. Mereka ingin tahu siapa pemanah tersebut.

 

Melihat hal ini, Arjuna, tidak hanya terkejut tapi juga khawatir. Dia ingin dikenal sebagai pemanah terbaik di seluruh dunia.

 

Para putra mahkota mulai mencari pemanah yang mampu memanah anjing mereka dalam waktu yang sangat singkat dan menemukan Ekalavya.

 

Arjuna berkata: "Keahlian memanahmu sangat luar biasa. Siapakah gurumu?"

 

"Guruku Dronāchārya," jawab Ekalavya dengan rendah hati.

 

Arjuna terkejut mendengar nama Drona. Benarkah? Dapatkah guru yang sangat dicintainya ini mengajarkan demikian banyak ilmu pada pemuda ini? Kalau benar, bagaimana dengan janji yang telah diucapkan gurunya kepadanya? Kapan Drona mengajar pemuda ini? Arjuna tidak pernah melihat Ekalavya di Ashram.

 

Ketika Drona mendengar cerita ini, dia ingat pada Ekalavya dan pergi menemuinya.

 

Drona berkata: "Engkau telah belajar dengan sangat baik nak. Aku sangat puas dengan hasilnya. Dengan pemujaan dan latihan, engkau telah mencapai hasil yang luar biasa baik. Semoga keberhasilanmu menjadi contoh bagi yang lainnya."

 

Ekalavya sangat bahagia dan berkata: "Terimakasih, oh Gurudeva! Aku juga muridmu. Kalau tidak, aku tidak yakin bisa mencapai keahlian seperti sekarang."

 

Drona berkata: "Jika engkau menerima aku sebagai gurumu, engkau harus membayar kewajiban setelah latihanmu selesai. Pikirkanlah."

 

Ekalavya dengan tersenyum berkata: "Apa yang perlu dipikirkan Guru? Aku muridmu dan gurulah guruku. Mohon katakan apa yang guru inginkan. Aku akan mempersembahkannya walaupun aku harus  mengorbankan nyawa untuk itu."

 

"Ekalavya, aku harus meminta pengorbanan yang sangat tinggi darimu untuk memenuhi janjiku kepada Bhishma dan Arjuna bahwa tidak seorangpun akan mampu menandingi Arjuna dalam hal memanah. Maafkan aku, nak! Bisakah engkau memberikan ibu jari tangan kananmu sebagai bayaranku?"

 

Ekalavya menatap Dronāchārya beberapa saat. Dia bisa memahami masalah Sang Guru. Dia kemudian berdiri, berjalan ke arah patung Drona dengan mantap, meletakkan jempol kanannya di atas sebuah batu, dan memotongnya dengan panah yang digenggam di tangan kirinya.

 

Drona merasa menyesal melihat luka yang diderita Ekalavya dan sangat tersentuh oleh pengabdiannya yang sangat besar. Drona memeluknya dan berkata: "Nak, kasihmu pada guru tak tertandingi. Aku sangat puas memiliki murid sepertimu. Tuhan selalu memberkatimu!"

 

Ekalavya mendapat kemenangan dalam kekalahan! Tanpa jempol kanan, ia tidak bisa lagi menggunakan busur dengan baik. Tapi dia melanjutkan berlatih menggunakan tangan kirinya. Dengan pengorbanan tertinggi, ia menerima kasih karunia Tuhan dan menjadi pemanah kidal terbaik. Ia membuktikan bahwa tidak ada yang bisa menghentikan upaya yang benar-benar tulus. Dengan tindakan dan perilaku, Ekalavya, menunjukkan bahwa tinggi rendahnya kedudukan tidak ditentukan oleh masyarakat, tetapi oleh visi, kualitas pikiran dan hati.

 

Drona seorang guru besar, Jai. Tetapi ada banyak guru palsu di dunia yang akan mencoba untuk menipumu.

 

Jai: Apakah kita perlu seorang guru untuk mencapai Tuhan?

 

Nenek: Kita pasti butuh guru untuk belajar semua subjek, spiritual atau material. Tetapi untuk menemukan guru yang nyata tidak begitu mudah. Ada empat jenis guru: pertama - yang mengetahui suatu subjek (guru), kedua - guru palsu, ketiga - seorang Sad Guru dan ke-empat - Parama-Guru. Ada banyak guru palsu yang hanya berperan sebagai seorang guru. SadGuru adalah guru yang mempunyai kesadaran Tuhan dan sangat sulit ditemukan. Krishna disebut JagadGuru atau ParamaGuru, guru alam semesta.

 

Ketika engkau lulus dari perguruan tinggi dan memasuki kehidupan berkeluarga, engkau perlu menemukan seorang guru atau pembimbing rohani. Sementara itu, ikutilah kitab suci dan budaya dan jangan pernah menerima kekalahan dalam hidup.

 

Bab 4 Ringkasan: Tuhan turun ke dunia dari waktu ke waktu dalam wujud kehidupan untuk memperbaiki keadaan di bumi. Tuhan memenuhi keinginan orang-orang yang menyembah Beliau. Ada empat jenis praktek-praktek spiritual atau Yajna. Baik pelayanan tanpa pamrih maupun kesadaran diri sejati membebaskan jiva dari belenggu Karmā. Tuhan memberikan kesadaran diri untuk mereka yang melakukan pelayanan tanpa pamrih. Kesadaran diri membakar semua Karmā masa lalu kita dan membebaskan kita dari roda atau siklus kelahiran dan kematian.

 

 

BAB 5

JALAN PENGINGKARAN

 

Jai: Sebelumnya, nenek sebutkan ada dua jalan. Jalan mana yang lebih baik bagi kebanyakan orang, nek, jalan kesadaran spiritual atau jalan pelayanan tanpa pamrih?

 

Nenek: Seseorang yang memiliki kesadaran KeTuhanan sejati percaya bahwa semua kerja dilakukan oleh energi alam dan ia bukan pelaku yang sebenarnya dari suatu tindakan. Orang semacam ini disebut Samnyāsi atau pengingkaran diri dan memiliki kesadaran diri sejati.

 

Seorang KarmaYogi bekerja tanpa mengharapkan hasil untuk dirinya dari pekerjaan yang dilakukannya. KarmaYoga mempersiapkan seseorang untuk menerima kesadaran diri sejati. (Gita 4,38, 5,06). Kesadaran diri sejati akan mengarah pada pengingkaran diri. Jadi pelayanan tanpa pamrih atau KarmaYoga membentuk dasar pengingkaran (Samnyāsa). Kedua jalan itu akhirnya mengarah kepada Tuhan. Krishna menganggap KarmaYoga lebih baik diantara kedua jalan karena lebih cepat dan lebih mudah bagi kebanyakan orang untuk diikuti. (Gita 5,02).

 

Jai: Bukankah kata pengingkaran biasanya berarti meninggalkan harta benda duniawi dan tinggal di sebuah Ashram atau di tempat sepi?

 

Nenek: Kata Samnyasa dalam arti sempit berarti membatalkan (atau menyerahkan) semua kepentingan pribadi, harta benda dan benda-benda duniawi. Tapi itu juga berarti hidup dalam masyarakat dan melayani masyarakat dengan melakukan satu tugas tanpa kepentingan pribadi apapun. Orang semacam ini disebut Karmā-Samnyāsi. Beberapa pemimpin spiritual, seperti Adi Sankarāchārya, memilih jalan pengingkaran diri dari semua harta duniawi sebagai jalur tertinggi dan tujuan hidup. Dia sendiri menjadi Samnyāsi ketika masih kecil. Krishna berkata: "Orang yang tercerahkan atau Samnyāsi (atau pertapa, atau orang yang telah meninggalkan semua kepentingan pribadi) melihat Tuhan di dalam semua. Orang semacam itu melihat orang terpelajar, orang buta huruf, orang kaya, yang miskin, orang buangan, bahkan seekor sapi, gajah, atau anjing dengan penglihatan yang sama. "(Gita 5,18)

 

Aku akan menceritakan kisah tentang seorang pemimpin rohani yang besar, pahlawan, guru, Samnyāsi dan pemikir besar. Namanya Adi Sankarāchārya. Seorang yang mendalami Gita berhutang kepadanya dengan penuh penghargaan dan rasa hormat.

 

 

5. Adi Sankarāchārya

 

Adi Sankarāchārya (atau Sankara) adalah penulis dan promotor non-dualistik sebuah filsafat Vedanta, yang menyatakan bahwa seluruh alam semesta tidak lain adalah Tuhan. Ia dilahirkan di negara bagian Kerala pada tahun 788 M. Pada usia delapan tahun, dia telah belajar ke empat Veda, dan pada usia dua belas tahun, sudah fasih dalam semua kitab-kitab Hindu. Dia diyakini sebagai Deva Shiva dalam wujud manusia.

 

Dia menulis banyak buku, termasuk komentar pada Bhagavad-Gita, Upanisad, BrahmaSutra dan banyak lainnya. Kitab Suci Bhagavad-Gita tersembunyi dalam Mahābhārata bab kedelapan sebelum Sankara membawanya kepada kita. Sankara mengambil Gita dari Mahābhārata, memberikan judul bab, dan menulis komentar pertama dari Gita dalam bahasa Sanskerta. Terjemahan Bahasa Inggris pertama dari Gita itu dilakukan oleh penguasa Inggris pada abad ke-19.

 

Sankara mendirikan empat ashram utama di berbagai penjuru India: di Shringeri, Badrināth, Dvārkā dan Puri. Dia menghentikan penyebaran Buddha terhadap Hindu dan mengembalikan Hindu ke kejayaan masa lalu. Menurut filsafat non-dualismenya, jiva individual (jiva) adalah Brahman (Tuhan), dan dunia adalah permainan Māyā, khayalan energy Brahmā. Ia jelas seorang yang telah mencapai tingkat kesadaran diri. Tetapi pada awalnya, ia memiliki perasaan dualitas, membedakan antara kasta tinggi dan rendah. Kepercayaannya yang mutlak pada Tuhan (Brahmā) tidak terlalu kuat di dalam hatinya. Suatu hari, ia pergi ke kuil Shiva di kota suci Banāras setelah mandi di sungai suci Gangā. Dia melihat seorang kasta rendah, seorang tukang daging, membawa beban daging. Tukang daging itu menghampirinya dan berusaha menyentuh kaki Sankara dengan hormat.

 

Sankara berteriak marah: "Pergi! Beraninya kau menyentuhku? Sekarang aku harus mandi lagi."

 

"Wahai Orang Suci," kata si tukang daging, "Aku tidak menyentuhmu, engkaupun tidak menyentuhku. Jiva yang murni bukanlah tubuh atau lima unsur pembentuk tubuh." (Penjelasan yang lebih rinci ada dalam Bab 13.)

 

Lalu Sankara melihat wujud Deva Shiva pada di tukang daging. Deva Shiva sendiri datang pada Sankara untuk menanamkan filsafat non-dualistik dalam dirinya. Sankara menjadi orang yang jauh lebih baik mulai hari itu karena kasih karunia Deva Shiva.

 

Kisah ini menggambarkan bahwa kesetaraan dengan semua mahluk sangat sulit untuk dilakukan sepanjang waktu. Untuk memiliki perasaan seperti itu seseorang harus benar-benar menyadari Tuhan atau seorang Samnyāsi yang sempurna.

 

Bab 5 Ringkasan: Krishna menyatakan bahwa pelayanan tanpa pamerih (atau pelayanan kemanusiaan tanpa terikat pada hasil) sebagai jalan terbaik bagi kebanyakan orang. Kedua jalan, baik jalan kesadaran diri maupun jalan pelayanan tanpa pamerih, mengarah ke kehidupan yang bahagia di bumi dan di Nirvāna setelah kematian. Samnyāsa tidak berarti meninggalkan harta benda duniawi. Tetapi berarti tidak melekat pada harta tersebut. Seseorang yang tercerahkan melihat Tuhan di dalam semua mahluk dan memperlakukan semua orang sama.

 

 

BAB 6

JALAN MEDITASI

 

Jai: Nenek mengatakan ada beberapa jalan menuju Tuhan. Nenek juga mengatakan tentang tugas yang harus dilakukan dan jalan kesadaran spiritual. Tolong ceritakan tentang jalan-jalan lain.

 

Nenek: jalan ketiga disebut jalan meditasi. Orang yang bersatu dengan Tuhan disebut seorang yogi. Pikiran seorang yogi benar-benar damai dan bersatu dengan Tuhan. Seorang yogi memiliki kendali atas pikiran, perasaan, dan keinginannya. Ia bebas dari amarah dan keserakahan. Sebuah gumpalan, batu dan emas mempunyai nilai sama bagi seorang yogi, yang melihat Tuhan dalam segala sesuatu dan segala sesuatu dalam Tuhan. (Gita 6,08, 14,24). Seorang yogi melihat setiap mahluk dengan mata yang sama, apakah teman, musuh, pembenci, saudara, orang suci atau pendosa. (Gita 6,09). Pikiran seorang yogi tetap tenang bahkan pada saat yang paling buruk. (Gita 6,19).

 

Jai: Apakah ada metode meditasi yang cukup sederhana untuk anak-anak, nek?

 

Nenek: Ya, ada, Jai. Pikiran adalah teman terbaikmu dan musuh terburukmu. Pikiran adalah teman bagi mereka yang memiliki kontrol terhadapnya dan musuh bagi mereka yang tidak mengendalikannya. (Gita 6.05-06). Jadi, engkau harus mencoba mengendalikan musuh ini. Pikiran seperti angin, sangat gelisah dan sulit untuk dikendalikan, tetapi engkau dapat mengontrol dengan latihan meditasi secara teratur. (Gita 6.34). Guru Nanak berkata: Kuasai pikiran, dan engkau menguasai dunia. 

 

Metode Meditasi Sederhana:

 

Waktu terbaik untuk bermeditasi adalah pada pagi hari sebelum pergi ke sekolah. Duduk dalam ruang meditasi atau ruang poojā (puja) (kamar suci). Luruskan pinggang, tulang belakang, dada, leher, dan kepala, tegak, tak bergerak dan mantap. Tutup mata, ambil napas dalam secara perlahan. Ingat Deva pujaanmu dan mohonlah berkatNya. Chantingkan OM di dalam hati selama lima menit. Jika pikiranmu mulai berkeliaran ke sana-sini, bawalah kembali dengan lembut untuk berkonsentrasi kepada Deva pujaanmu. Ada sebuah kisah tentang seorang anak bernama Dhruva dalam kitab suci kita, yang memenuhi keinginannya dengan menggunakan jalan meditasi.

 

 

6. Cerita tentang Dhruva

 

Dhruva adalah anak raja Uttānapāda dan permaisuri Suniti. Raja Uttānapāda sangat menyayangi istri keduanya, Suruchi, dan selalu bersikap kasar kepada Suniti, Ibu Dhruva. Suatu hari, ketika Dhruva berumur lima tahun, adik tirinya duduk di pangkuan ayahnya. Dhruva juga ingin duduk di sana. Tapi ibu tirinya menghentikannya dan menyeretnya ke samping.

 

Dia berbicara kasar kepada Dhruva, "Jika engkau ingin duduk di pangkuan ayahmu, engkau mestinya lahir dari rahimku, bukan dari rahim ibumu. Berdoalah kepada Deva Vishnu, agar Ia mengabulkannya."

 

Dhruva sangat terluka oleh kata-kata penghinaan ibu tirinya. Dia lari menemui ibunya sambil menangis. Ibunya menghiburnya dan menyuruhnya untuk mengikuti kata-kata ibu tirinya dengan serius dan berdoa kepada Deva Vishnu, penolong semua mahluk.

 

Dhruva meninggalkan kerajaan dan pergi ke hutan dengan tekad untuk bertemu Deva Vishnu dari tempat yang lebih tinggi. Dalam perjalanan, ia bertemu dengan Mharsi Nārada yang memberinya 12 suku kata mantra: "Om namo bhagavate vāsudevāya" untuk menyembah Vishnu dalam bentuk Tuhan Krishna. Dhruva menyembah Vishnu selama enam bulan dan Deva Vishnu muncul di hadapannya. Vishnu berjanji bahwa keinginan Dhruva akan terpenuhi dan dia akan mencapai surga tertinggi di kursi Polestar, yang tidak dapat hancur, bahkan jika seluruh dunia hancur.

 

Dhruva kembali ke kerajaan. Ketika Raja menjadi tua, raja memutuskan untuk menobatkan Dhruva sebagai Raja. Dhruva memerintah selama bertahun-tahun dan pada akhirnya mencapai Polestar yang diberikan oleh Deva Vishnu. Dikatakan bahwa seluruh Zodiac yang terdiri dari planet-planet dan bintang, semua berputar di sekitar Polestar. Sampai hari ini, jika kita melihat Polestar, kita ingat pada Dhruva, seorang pemuja dengan pikiran murni dan tekad kuat.

 

Jai: Apa yang terjadi pada seorang yogi yang tidak sukses dalam hidup ini?

 

Nenek: Tidak ada praktek spiritual yang tidak berguna yang dilakukan seorang yogi. Yogi yang gagal dilahirkan kembali di keluarga kaya atau keluarga yang maju secara rohani. Yogi yang gagal mendapatkan kembali pengetahuan yang ia miliki di kehidupan sebelumnya dan mencoba lagi untuk menjadi sempurna dari yang ia tinggalkan sebelumnya. Tidak ada upaya rohani yang terbuang.

 

Jai: Bagaimana aku bisa menjadi yogi yang baik, nek?

 

Nenek: Untuk menjadi yogi terbaik, engkau harus melihat semua mahluk seperti dirimu sendiri dan merasakan rasa sakit dan senang mereka. Berpikirlah tentang Tuhan dengan penuh kasih dan dengan kepercayaan tinggi. Jagalah agar pikiranmu selalu tertuju pada-Nya. (Gita 6,47).

 

Bab 6 Ringkasan: Jalan ketiga menuju Tuhan adalah yoga meditasi. Untuk menjadi yogi terbaik, engkau harus melihat setiap mahluk seperti dirimu sendiri, dan mampu merasakan sakit dan senang orang lain. Sebuah cara meditasi yang sangat sederhana yaitu dengan menggunakan getaran suara OM. Tidak ada praktek spiritual yang sia-sia.

 

 

 

 

BAB 7

KESADARAN DIRI DAN PENCERAHAN

 

Jai: Bagaimana seluruh alam semesta kita terbentuk, Nek? Apakah ada yang mencipta?

 

Nenek: Ada seorang pencipta dibalik setiap ciptaan, Jai. Tidak ada yang dapat tercipta tanpa seseorang atau suatu kekuasaan dibaliknya. Suatu kekuatan diperlukan, tidak hanya untuk menciptakan, tetapi juga untuk memelihara dan menjalankannya. Kita sebut semua kekuasaan Tuhan, Yang Mutlak, Maha Kuasa yang dalam bahasa Sanskerta disebut dengan Krishna, Ishvara, Bhagavān dan Shiva. Agama-agama lain menyebutNya dengan Allah, Bapa, Jehovā, Devi dan banyak lagi nama yang lain. Dalam arti sebenarnya, Tuhan bukanlah pencipta alam semesta, tetapi Ia sendiri menjadi segalanya di alam semesta. Dia memanifestasikan diri sebagai Brahmā, yang kita sebut pencipta. Sebenarnya, Brahmā dan semua Deva dan Devi hanya nama dari kekuatan yang berbeda dari satu Tuhan. Orang berpikir orang Hindu menyembah banyak Deva dan Devi, itu karena kurangnya pengetahuan yang benar. Seluruh alam semesta adalah manifestasi Tuhan. Ini adalah filsafat tertinggi. Engkau mungkin tidak mengerti sepenuhnya sekarang.

 

Jai: Bagaimana satu Tuhan menjadikan begitu banyak hal di alam semesta?

 

Nenek: Menurut Sāmkhya, teori penciptaan, kekuatan Tuhan (Atmā atau Roh) itu sendiri menjadi alam atau materi, yang terdiri dari lima unsur dasar. Seluruh ciptaan dilahirkan dan ditopang oleh berbagai kombinasi dari kedua kekuatan: Roh dan material. (7,06 Gita). Dia ada dalam bentuk cahaya pada matahari dan bulan; Dia ada dalam bentuk pikiran dan kekuatan dalam manusia. Ia mencerna makanan dan mendukung hidup kita. Kita semua terhubung oleh Roh yang sama seperti untaian mutiara pada kalung dihubungkan oleh benang yang sama. (Gita 7,07).

 

Jai: Jika Tuhan ada di mana-mana dan dalam segala hal, mengapa tidak semua orang memahami dan mencintai dan menyembah Beliau? 

 

Nenek: Itu pertanyaan yang baik, Jai. Pada umumnya, orang memiliki pemikiran yang salah tentang Tuhan karena tidak setiap orang diberi kekuasaan untuk memahami-Nya. Sama seperti beberapa orang tidak mengerti kalkulus atau matematika dasar, jadi orang-orang yang tidak mempunyai Karmā baik, tidak bisa tahu, mengerti, cinta, atau menyembah Tuhan.

 

Jai: Lalu siapa orang-orang yang memahami Tuhan?

Nenek: Ada empat jenis orang yang menyembah atau berusaha memahami Tuhan, yaitu: (1) orang-orang yang sakit atau sedang menghadapi suatu masalah atau mencari pertolongan dalam studi atau pekerjaan, (2) orang-orang yang berusaha untuk mendapatkan pengetahuan tentang Tuhan, (3) orang-orang yang menginginkan uang, dan (4) orang yang bijaksana yang tahu Tuhan. (Gita 7.16). Krishna menganggap semua ke-empat tipe orang ini sebagai pengikutnya. Orang yang bijaksana adalah yang terbaik karena orang yang bijaksana menyembah Tuhan tanpa menginginkan apa pun dari-Nya. Bahkan orang-orang bijaksana seperti itu benar-benar mengenal Tuhan setelah melalui banyak kelahiran. (Gita 7.19).

 

Jai: Jika aku menyembah Krishna, apakah aku bisa mendapatkan nilai bagus dalam ujian atau bisa menghilangkan penyakit?

 

Nenek: Ya, Dia memenuhi keinginan semua orang yang percaya kepadaNya dan yang selalu menyembah dan berdoa dengan tekun. Tuhan adalah Ayah dan Ibu kita. Engkau harus meminta pada Tuhan apa yang engkau inginkan, dalam doa. Dia memenuhi keinginan pemuja-Nya yang tulus. (Gita 7,21).

 

Jai: Lalu mengapa tidak semua orang menyembah Krishna? Mengapa kita menyembah Deva Ganesha, Shri Hanumāna, Ibunda Saraswati dan banyak Deva-Deva lainnya?

 

Nenek: Krishna adalah nama Tuhan yang Maha Kuasa. Beberapa sekte Hindu penyebut Tuhan yang Maha Kuasa sebagai Tuhan Shiva. Orang-orang dari agama lain menyebut-Nya Buddha, Yesus, Allah, Bapa, dll. Semua Deva-Deva adalah bagian dari kekuatan-Nya. Sama seperti semua air hujan masuk ke laut, sehingga penyembahan Deva apapun menuju ke Krishna, Yang Mutlak. Tetapi seorang pemula harus memilih hanya satu dari banyak Deva dan membentuk suatu hubungan pribadi dengan melakukan Poojā atau setidaknya Namaskāra setiap hari kepada Deva yang dipilihnya. Deva pujaannya ini kemudian menjadi pemandu pribadimu dan pelindungmu. Deva pujaanmu ini disebut IshtaDeva atau IshtaDevi-mu.

 

Jai: Nenek mengatakan bahwa seluruh alam semesta ini hanya wujud lain dari Tuhan. Apakah Tuhan tak berwujud atau dapat mengambil suatu wujud?

 

Nenek: pertanyaan besar ini tidak hanya membingungkan anak-anak, tetapi juga teka-teki bagi orang dewasa. Jawaban untuk pertanyaan ini menciptakan berbagai sekte atau kelompok dalam agama Hindu. Satu sekte, yang disebut Arya Samāj, percaya bahwa Tuhan tidak dapat memiliki wujud dan tak berwujud. Kelompok lain percaya Tuhan memiliki wujud. Kelompok ketiga percaya Tuhan itu tak berwujud dan bisa mengambil wujud. Yang lain percaya bahwa Tuhan berwujud dan tanpa wujud.

Aku yakin semuanya memiliki wujud. Tidak ada di dunia ini yang tak berwujud. Tuhan memiliki wujud yang tak terlihat mata fisik kita. Dia tidak dapat dipahami oleh pikiran manusia atau dijelaskan dengan kata-kata. Mahatinggi, berwujud transendental (di luar dunia ini) dan memiliki Kepribadian Agung. Dia tidak memiliki asal usul tetapi adalah asal dari segala sesuatu. Dia tidak memiliki awal atau akhir. Tuhan yang tidak kelihatan adalah penyebab dunia yang terlihat ini. Tak terlihat bukan berarti tak berwujud. Segala sesuatu yang kita lihat adalah wujud lain dari Tuhan.

 

Berikut ini adalah cerita tentang penerapan praktis bagaimana melihat yang Maha Tinggi dalam semua mahluk seperti yang disebutkan dalam Gita 7,19. 7.

 

 

7. Melihat Tuhan pada Semua Mahluk

 

Di dalam hutan tinggal seorang orang suci yang memiliki banyak murid. Dia mengajar mereka untuk melihat Tuhan dalam semua mahluk dan untuk sujud menyembah di hadapan mereka. Suatu hari seorang murid pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Tiba-tiba dia mendengar teriakan. "Minggir! Seekor gajah gila datang!"

 

Semua orang, kecuali murid orang suci, melarikan diri. Dia melihat gajah sebagai Tuhan dalam bentuk lain, jadi mengapa ia melarikan diri darinya? Dia berdiri diam, membungkuk di depan sang gajah, dan mulai bermeditasi pada Tuhan dalam bentuk gajah.

 

Pawang gajah itu berteriak: "Lari! Lari!"

Tetapi murid orang suci itu tak bergerak. Hewan itu menyambarnya dengan belalainya, melemparkan dia ke samping, dan berlalu dari tempat itu. Murid orang suci itu terbaring di tanah, tak sadarkan diri. Mendengar apa yang telah terjadi; saudara seperguruannya datang dan membawanya ke pertapaan. Dengan bantuan beberapa jenis jamu, ia sadar kembali.

 

Lalu seorang rekannya bertanya, "Engkau kan tahu gajah gila itu datang, kenapa engkau tidak melarikan diri?"

 

Dia menjawab: "guru mengajarkan kepada kita bahwa Tuhan ada di dalam semua mahluk, binatang dan juga manusia. Oleh karena itu, aku pikir itu gajah-Deva yang akan datang, jadi aku tidak lari."

 

Mendengar penjelasannya, Sang guru berkata:"Ya, nak, memang benar gajah-Deva yang datang; tapi pawang-Deva meminta engkau untuk keluar dari jalan. Mengapa engkau tidak mempercayai kata-kata pawang? Dan juga, gajah-Deva tidak memiliki kesadaran diri bahwa semua adalah Tuhan!"

 

Tuhan bersemayam di dalam semua mahluk. Tuhan bahkan dalam harimau, tetapi engkau tidak bisa memeluk harimau karenanya! Dekatlah hanya dengan orang-orang baik, jauhkan diri dari orang yang berpikiran jahat. Jauhkan diri dari orang yang tidak murni, yang jahat, dan yang kejam.

 

 

8. Yang Gaib

 

Suatu hari, di suatu ruang kelas, duduk seorang anak gadis berusia 6 tahun. Guru akan menjelaskan tentang evolusi kepada anak-anak.

 

Sang guru bertanya kepada seorang anak kecil: "Manav, apakah engkau melihat pohon di luar?"

 

Manav: "Ya"

 

Guru: "Manav, apakah engkau melihat rumput di luar?"

 

Manav: "Ya"

 

Guru: "Pergilah ke luar dan lihat ke atas. Lihat apakah engkau dapat melihat langit."

 

Manav: "Baiklah. (Dia kembali beberapa menit kemudian.) Ya, aku melihat langit."

 

Guru: "Apakah engkau melihat Tuhan di mana-mana?"

 

Manav: "Tidak"

 

Guru: "Itulah maksudku. Kita tidak dapat melihat Tuhan karena Dia tidak ada. Dia benar-benar tidak ada."

 

Si gadis kecil mengangkat tangannya. Ia ingin menanyakan beberapa pertanyaan kepada anak yang sama. Guru setuju, dan si gadis kecil mulai bertanya kepadanya:

 

"Manav, Apakah engkau melihat pohon di luar?"

 

Manav: "Ya"

 

Gadis kecil: "Manav, apakah engkau melihat rumput di luar?"

 

Manav: "Yaaaa!"

 

Gadis kecil: "Apakah engkau melihat langit?"

 

Manav: "Yaaaa!"

 

Gadis kecil: "Manav, apakah engkau melihat guru?"

 

Manav: "Ya"

 

Gadis kecil: "Apakah engkau melihat pikiran atau otaknya?"

 

Manav: "Tidak"

 

Gadis kecil: "Kalau begitu, sesuai dengan apa yang diajarkan pada kita hari ini, dia pasti tidak punya pikiran atau otak!"

Tuhan tidak dapat dilihat dengan mata fisik kita. Dia hanya dapat dilihat oleh mata pengetahuan, iman, dan pengabdian saja. (Gita 7.24-25). Karena kita berdoa dengan iman, bukan dengan penglihatan, Dia menjawab doa kita!

 

Bab 7 Ringkasan: Hanya ada satu Tuhan, yang disebut dengan banyak nama. Deva, Devi, atau para Deva lain dalam agama kita tidak lain hanyalah nama-nama kekuatan yang berbeda dari Satu Kekuatan Mutlak, Tuhan. Deva merupakan nama dan wujud yang berbeda dari kekuatan Tuhan untuk membantu kita menyembah dan berdoa. Ada empat tipe orang yang menyembah Tuhan. Seluruh ciptaan ini terdiri dari lima elemen dasar dan Roh. Tuhan berwujud dan tanpa wujud.  Tuhan dapat mengambil wujud apa pun. Seseorang tidak dapat mengetahui hakikat Tuhan kecuali dia memiliki pengetahuan rohani.

 

BAB 8

BRAHMĀ YANG ABADI

 

Jai: Aku tidak punya banyak kosakata rohani, nek, jadi aku tidak mengerti banyak kata yang aku dengar di kuil. Bisakah nenek menjelaskan artinya dengan cara yang sederhana?

 

Nenek: Nenek akan menjelaskan beberapa kata-kata Sanskerta, jadi dengarkan dengan baik. Engkau mungkin tidak sepenuhnya mengerti istilah ini pada usiamu saat ini.

 

Roh yang berada di dalam semua mahluk hidup disebut Brahman dalam bahasa Sanskerta. Brahman tidak hanya mendukung mahluk hidup, tetapi juga mendukung seluruh alam semesta. Tak berwujud merupakan sifat Tuhan, Yang Mutlak. Brahman tanpa awal, tanpa akhir (atau abadi) dan tak berubah, karena itu, ia juga disebut Brahman yang Abadi. Kata Brahman sering dibingungkan dengan kata Brahmā kekuatan kreatif atau pencipta alam semesta ini. Kata Brahma juga dieja sebagai Brahm atau Brahman. Kata Brahmā sering dibingungkan dengan istilah lain, Brāhmana atau juga disebut Brāhmin, yang mengacu pada kasta atas atau kelas intelektual orang di India. Nenek akan jelaskan istilah ini di Bab 18.

 

ParaBrahman, Paramātmā, Bapa, Ibu adalah berbagai sebutan untuk Yang Mahatinggi, Yang adalah asal dari segala sesuatu, termasuk Brahmā (Roh atau Atmā).

 

Kata Karmā memiliki beberapa arti. Umumnya, berarti melakukan atau bekerja. Kata ini juga berarti hasil perbuatan seseorang yang tersimpan dari kehidupan masa lalu. Berbagai kekuatan Brahman disebut Daiva (atau Deva, Devi, Devatā). Kita menyembah kekuatan ini agar keinginan duniawi kita terpenuhi.

 

Ishvara adalah kekuatan Tuhan yang bersemayam dalam tubuh semua mahluk hidup untuk membimbing dan mengendalikan kita. Bhagavān berarti berkuasa. Istilah ini digunakan untuk Tuhan. Kita menyebut Shri Krishna juga Bhagavān Krishna. Jiva atau Jivātmā berarti mahluk hidup yang terlahir, memiliki waktu hidup yang terbatas, dan bisa mati atau berubah wujud.

 

Jai: Seberapa sering seharusnya aku ingat dan menyembah Tuhan untuk memastikan bahwa aku mengingat Tuhan ketika aku mati?

 

Nenek: Kita harus membentuk kebiasaan mengingat Tuhan sebelum makan, sebelum tidur, setelah bangun di pagi hari, dan sebelum belajar atau mulai apapun.

Jai: Apakah kita selalu dilahirkan kembali sebagai manusia?

 

Nenek: Manusia dapat mengambil salah satu dari 8.400.000 bentuk kehidupan di bumi. Hindu percaya pada kehidupan setelah kematian. Krishna berkata: "Apa pun objek yang diingat pada waktu kematian, itulah objek yang didapatkan setelah kematian. Selama kematian, orang akan ingat pada sesuatu yang dipikirkannya selama sebagian besar umur hidupnya." (Gita 8,06). Oleh karena itu, kita harus selalu mengingat Tuhan dan melakukan tugas kita. (Gita 8,07).

 

Ada sebuah cerita untuk mengilustrasikan teori perpindahan jiva - jiva.

 

 

9. Cerita tentang Raja Bharata

 

Ketika Rsi Vishvāmitra sedang sibuk menciptakan alam semestanya, Indra, Raja surga tidak bisa membiarkannya berbuat demikian. Ia mengirim penari surgawi yang cantik, Menakā, untuk mengganggu dia dari pekerjaannya. Menakā berhasil dan mengandung anak Vishvāmitra yang kemudian terlahir sebagai Shakuntalā. Ia dibesarkan di pertapaan Rsi Kanava setelah Menakā meninggalkannya ke surga.

 

Suatu hari seorang raja bernama Dushyanta berburu sampai di pertapaan Rsi Kanava. Di sana ia bertemu dan jatuh cinta pada Shakuntalā, dan diam-diam menikah di pertapaan. Setelah itu, Shakuntalā melahirkan seorang bayi laki-laki bernama Bharata. Dia sangat tampan dan kuat, bahkan selama masa kanak-kanaknya. Bharata tampak seperti anak seorang Deva. Ketika baru berusia enam tahun, ia biasa bermain di hutan dengan mengikat binatang liar yang masih bayi, seperti harimau, singa, dan gajah.

 

Bharata menjadi raja setelah Dushyanta. Bharata merupakan raja terbesar saat itu. Bahkan sampai hari inipun India masih disebut BhārataVarsha, tanah Raja Bharata. Dia memiliki sembilan anak laki-laki, tetapi tak satu pun dari mereka tampak cocok untuk memerintah setelah dia. Maka ia mengangkat seorang anak yang berkualitas, yang mengambil alih kerajaan setelah Bharata. Dengan demikian, Raja Bharata meletakkan dasar demokrasi.

 

Ada beberapa penguasa lain dengan nama Bharata seperti Bharata, adik Rāma dan Mahārāja Bharata. Berikut adalah kisah Mahārāja Bharata:

 

Seorang pemuja bernama Mahārāja Bharata, putra seorang Raja suci Rishabha Deva, juga memerintah seluruh planet kita. Dia memerintah selama bertahun-tahun, tetapi akhirnya meninggalkan segalanya untuk kehidupan rohani sebagai seorang pertapa. Meskipun ia mampu melepaskan kerajaannya yang mewah, ia menjadi terikat pada seekor bayi rusa. Suatu ketika rusa itu hilang, Mahārāja Bharata sangat sedih dan ia mulai mencarinya. Ketika mencari dan meratapi hilangnya si rusa, Mahārāja Bharata jatuh dan meninggal. Karena pikirannya sepenuhnya tertuju pada rusa pada saat kematiannya, ia secara alami mengambil kelahiran selanjutnya dari rahim rusa.

 

Inila teori perpindahan jiva yang kita percaya. Beberapa filsuf Barat percaya pada reinkarnasi. Teori reinkarnasi didasarkan pada asumsi bahwa jiva manusia mengambil kelahiran hanya sebagai manusia, bukan sebagai binatang. Teori transmigrasi tampaknya lebih universal daripada teori reinkarnasi. 

 

Jai: Jika mahluk hidup harus melalui siklus kelahiran dan kematian, bagaimana dengan Matahari, Bulan, Bumi, dan bintang-bintang? Apakah mereka juga mengambil kelahiran dan dapat dihancurkan?

 

Nenek: Seluruh ciptaan yang terlihat memiliki rentang hidup. Dunia yang terlihat, seperti bintang-bintang dan planet-planet, memiliki rentang kehidupan 8.64 miliar tahun. Selama periode ini, seluruh kosmos yang terlihat diciptakan dan dihancurkan. (Gita 8.17-19). Tapi Brahman kekal dan tak terhancurkan.

 

Jai: Jika seseorang tidak kembali ke dunia ini setelah mati, apa yang terjadi pada mereka? Apakah mereka pergi ke surga dan tinggal di sana selamanya?

 

Nenek: Mereka yang telah berbuat baik selama di bumi pergi ke surga, tetapi mereka harus kembali setelah menikmati kenikmatan surga. (Gita 8,25, 9,21) Mereka yang nakal dan buruk masuk neraka untuk menjalani hukuman dan juga kembali ke bumi setelahnya. Mereka yang telah mencapai keabadian (Nirvāna) tidak lahir kembali. Mereka menjadi satu dengan Tuhan dan pergi ke alam Tuhan yang disebut Parama-Dhāma. alam ini lebih tinggi dari surga.

 

Jai: Bagaimana kita bisa sampai ke alam Tuhan?

 

Nenek: Mereka yang memiliki pengetahuan sejati tentang Tuhan disebut memiliki kesadaran Tuhan dan mencapai alam Tuhan. Mereka tidak menjelma. Ini disebut jalan yang tidak kembali. (Gita 8,24) Jalur ini diblokir untuk orang-orang bodoh dan orang-orang tanpa kualitas yang diperlukan, seperti kesederhanaan, iman pada Tuhan, dan pengetahuan tentang Tuhan. Hanya mereka yang memiliki sifat-sifat ini akan melalui jalan yang tidak bisa kembali. Mereka yang tidak menyadari Tuhan, tetapi telah melakukan pekerjaan baik, masuk surga berdasarkan Karmā baik mereka dan mengambil kelahiran di bumi lagi sampai mereka menyempurnakan diri dan menyadari dirinya dengan sempurna. (Gita 8.25)

 

Bab 8 ringkasan: Beberapa istilah Sanskerta umum telah dijelaskan, yang akan engkau mengerti lebih baik ketika engkau bertambah dewasa. Teori transmigrasi dan siklus penciptaan dan penghancuran alam semesta juga sudah dijelaskan. Cara yang sangat sederhana dan mudah untuk manyadari adanya Tuhan adalah dengan selalu mengingat Tuhan sambil terus melakukan tugasmu.

 

 

BAB 9

PENGETAHUAN TERTINGGI DAN MISTERI BESAR

 

Jai: Jika Tuhan datang ke bumi, apakah Dia sama seperti kita, atau apakah Dia berbeda dari kita?

 

Nenek: Ini pertanyaan yang sangat bagus, Jai dan sudah dijawab dalam dua cara. Sebagai contoh, lihatlah rantai (kalung) dan cincin dan koin emas ini. Semua terbuat dari emas, sehingga engkau dapat melihatnya sebagai emas. Dan engkau dapat melihat hal-hal lain yang terbuat dari emas sebagai emas. Mereka emas dengan berbagai bentuk yang berbeda. Tapi engkau juga bisa menganggap mereka sebagai hal yang terpisah --- rantai, cincin, atau koin. Rantai, cincin, dan koin tidak lain hanyalah berbagai bentuk daripada emas. Dengan cara yang sama, kita bisa melihat Tuhan dan ciptaan-Nya sebagai perluasan dari Tuhan sendiri. Sudut pandang ini dikenal sebagai filsafat non-dualistik (atau Advaita). Sudut pandang lain untuk melihat Tuhan sebagai suatu kenyataan dan penciptaan sebagai suatu realitas yang berbeda, tetapi tergantung pada Tuhan. Filsafat Dualistik ini (atau Dvaita) menganggap benda-benda yang terbuat dari emas (seperti rantai, cincin dan koin) berbeda dari emas. (Gita 9.04-06)

 

Jai: Apakah itu yang dimaksud orang ketika mereka mengatakan bahwa Tuhan ada di mana-mana dan ada dalam segala hal?

 

Nenek: Ya, Jai, Tuhan adalah matahari, bulan, angin; api, pohon, bumi, dan batu-batu, sama seperti segala sesuatu yang terbuat dari emas adalah emas. Itulah sebabnya orang Hindu melihat dan menyembah Tuhan dalam batu dan pohon, seolah-olah Tuhan sendiri dalam bentuk-bentuk tersebut.  

 

Jai: Jika semuanya berasal dari Tuhan, apakah semuanya akan menjadi Tuhan lagi, seperti semua yang terbuat dari emas dapat melebur menjadi emas?

 

Nenek: Ya, Jai, siklus penciptaan dan penghancuran terus terjadi. Sama seperti mengembalikan rantai dan cincin dan koin menjadi emas lagi dan kemudian menggunakan emas yang sama untuk membuat perhiasan dan koin baru. (Gita 9.07-08). Seluruh ciptaan terus menerus muncul dan menghilang.

 

Jai: Jika kita adalah Tuhan, dan kita semua berasal dari Tuhan, lalu mengapa tidak semua orang cinta dan menyembah Tuhan?

 

Nenek: Mereka yang memahami kebenaran ini menyembah Tuhan. Mereka tahu Tuhan adalah Tuhan kita, dan kita berasal dari-Nya, bagi-Nya, dan kita bergantung pada-Nya, sehingga mereka mencintai dan menyembah-Nya. Tetapi orang yang bodoh tidak mengerti atau tidak percaya pada kebesaran Tuhan.

 

Jai: Jika aku berdoa kepada Tuhan setiap hari dan mencintai-Nya dan mempersembahkan bunga atau buah, apakah Dia akan senang dan membantuku dalam studi?

 

Nenek: Krishna mengatakan dalam Gita bahwa Dia memenuhi segala kebutuhan penyembah-Nya yang menyembah Nya dengan iman yang kuat dan pengabdian penuh kasih. (Gita 9,22)

 

Jai: Apakah itu berarti bahwa Tuhan hanya mencintai orang-orang yang berdoa dan menyembah Dia?

 

Nenek: Tuhan mengasihi kita semua sama, tetapi jika kita mengingat-Nya dan berdoa kepada-Nya, kita datang lebih dekat kepada Tuhan. Jadi kita semua harus berpikir tentang Tuhan, menyembah Dia, meditasi, dan sujud kepada-Nya dengan iman, cinta dan pengabdian.

 

Jai: Aku ingin dekat kepada Tuhan Krishna, nek. Bagaimana aku bisa lebih percaya pada-Nya dan lebih mencintai-Nya?

 

Nenek: Pikirkanlah semua hal yang menyenangkan yang telah dilakukan Tuhan bagi kita. Dia memberi kita begitu banyak makanan yang kita nikmati. Dia memberi kita matahari untuk pemanasan dan cahaya. Lihatlah langit yang indah dengan bulan, bintang-bintang dan awan di malam hari. Ini semua ciptaan-Nya yang indah, jadi pikirkan betapa indahnya sang pencipta! Menyembah Tuhan berarti mengucapkan terima kasih atas kebaikan-Nya. Berdoa berarti meminta apa yang kita butuhkan dari Tuhan. Meditasi berarti berhubungan dengan kekuatan Agung untuk mendapatkan bantuan dan bimbingan.

 

Jai: Jika hanya ada satu Tuhan yang memberikan kita segalanya, mengapa nenek punya begitu banyak Deva dalam ruang doa (ruang Poojā), nek? Kenapa nenek tidak menyembah hanya satu Tuhan Krishna?

 

Nenek: Tuhan Krishna berkata: "Mereka yang menyembah Deva-Deva lain, juga menyembah-Ku melalui para Deva." (Gita 9,23) Kita dapat menyembah Deva mana pun yang kita rasa dekat. Deva favorit itu disebut Ishta-Deva, Deva pribadi kita sendiri (atau malaikat pelindung) yang menjadi pemandu dan pelindung pribadi kita.

 

Jai: Mengapa kita mempersembahkan buah-buahan dan bunga kepada Tuhan?

 

Nenek: Tuhan Krishna mengatakan dalam Gita bahwa siapapun yang mempersembahkan kepada-Nya daun, bunga, buah, air, atau apa pun dengan cinta dan kesetiaan, Dia tidak hanya menerima, tetapi makan persembahan-persembahan itu! (Gita 9,26) Itulah sebabnya kita selalu mempersembahkan makanan kita kepada Tuhan dengan doa sebelum kita memakannya. Makanan yang dipersembahkan kepada Tuhan disebut Prasāda atau Prasādam. Siapapun dapat mencapai Tuhan dengan memuja-Nya dengan iman, cinta dan pengabdian. Jalan pengabdian ini terbuka bagi kita semua. Berikut adalah cerita tentang kekuatan iman.

 

 

10. Seorang Anak Lelaki yang memberi makan Tuhan.

 

Seorang laki-laki mulia selalu menyembah Deva keluarganya setiap hari dengan mempersembahkan makanan. Suatu hari ia harus pergi dari desa seharian. Dia berkata kepada anaknya, Raman: ”Haturkan persembahan kepada Deva hari ini. Tuhan harus diberi makan.”

 

Anak itu mempersembahkan makanan kepada Deva di altarnya, tapi patung Deva di sana tidak makan atau minum atau bicara. Raman menunggu lama, tapi tetap patung itu tidak bergerak. Ia benar-benar percaya bahwa Tuhan akan turun dari takhta-Nya di surga, duduk di lantai dan makan.

 

Ia terus berdoa kepada Deva, dengan berkata: "Ya Tuhan, silahkan datang dan makan makanan yang kupersembahkan. Hari sudah siang. Ayah akan marah jika aku tidak memberi-Mu makan." Patung Deva itu tidak mengatakan sepatah kata pun.

Anak itu menangis tersedu-sedu: "Ya Tuhan, ayahku memintaku untuk memberi-Mu makan. Mengapa Kau tidak turun? Mengapa Kau tidak mau makan dari tanganku?"

 

Anak itu menangis selama beberapa waktu dengan kerinduan jiva. Akhirnya Deva turun dari altar dalam bentuk manusia sambil tersenyum dan duduk di depan makanan dan mulai memakannya.

 

Setelah memberi makan Deva, anak itu keluar dari ruang doa.

 

Senja hari, ketika semua saudara serta ayahnya sudah tiba kembali ke rumah, ayahnya berkata: "Setelah dipersembahkan, sekarang bawalah Prasādam ke luar untuk kita."

 

Anak itu berkata: "Tuhan telah memakan semua persembahan. Dia tidak menyisakannya untuk kita hari ini." Mereka memasuki ruang doa dan sangat heran melihat bahwa Tuhan telah benar-benar makan semua persembahan.

 

Moral dari cerita ini adalah bahwa Tuhan akan makan kalau kita mempersembahkan makanan dengan penuh iman, cinta, dan pengabdian. Sebagian besar dari kita tidak memiliki iman sebesar Raman. Kita tidak tahu bagaimana memberi Beliau makan! Dikatakan bahwa kita harus memiliki kepercayaan kepada Tuhan seperti seorang anak. Kalau tidak kita tidak akan masuk ke alam tertinggi, yaitu rumah Tuhan.

 

Jai: Nek, bagaimana dengan seorang yang berdosa pencuri atau perampok. Bisakah orang seperti itu mengasihi Tuhan?

 

Nenek: Ya, Jai. Krishna telah mengatakan dalam Gita: Bahkan orang yang paling berdosapun, jika ia memutuskan untuk menyembah-Ku dengan pengabdian yang penuh kasih, orang semacam itu akan segera menjadi orang suci karena ia telah membuat keputusan yang tepat. (Gita 9,31) Berikut adalah cerita tentang seorang perampok seperti itu.

 

 

11. Perjalanan Besar Seorang Rsi Perampok.

 

Kita punya dua epik atau kisah-kisah sejarah yang sangat populer. Yang pertama adalah Rāmāyana. Yang kedua adalah Mahābhārata. Bhagavad-Gita merupakan bagian dari Mahābhārata. Epik ini ditulis sekitar 3.100 sebelum masehi. Awalnya, epik suci Rāmāyana mungkin telah ditulis sekitar 1,75 juta tahun yang lalu, menurut penemuan terbaru NASA. Penulis asli Rāmāyana adalah seorang Rsi bijak bernama Vālmiki. Setelah Vālmiki banyak Rsi lain menulis Rāmāyana, kisah tentang Tuhan Rāma yang mesti dibaca semua anak.

 

Menurut legenda, Vālmiki diberi kekuasaan oleh Rsi Nārada yang bijak untuk menulis seluruh episode sebelum kejadian ini benar-benar terjadi.

 

Pada awal hidupnya, Vālmiki adalah seorang perampok. Dia menghidupi keluarganya dengan cara merampok pelancong. Suatu hari, Rsi besar surgawi, Nārada, kebetulan lewat. Vālmiki menyerangnya dan mencoba merampoknya. Nārada bertanya kepada Vālmiki mengapa ia melakukan hal itu. Vālmiki mengatakan bahwa ini dilakukan untuk menghidupi keluarganya.

 

Orang bijak itu berkata kepada Vālmiki: "Ketika engkau merampok seseorang, kau melakukan dosa. Apakah anggota keluargamu mau berbagi menanggung dosa itu?"

 

Perampok itu menjawab: "Mengapa tidak? Aku yakin mereka mau."

 

Orang bijak itu berkata: "Baiklah, pulanglah ke rumah dan tanyakan kepada mereka apakah mereka mau ikut menanggung dosa-dosamu bersama dengan uang yang engkau bawa pulang."

 

Si perampok setuju. Dia mengikat orang bijak tersebut pada sebatang pohon dan pulang ke rumahnya. Dia bertanya pada setiap anggota keluarganya: "Aku membawa uang dan banyak makanan karena merampok orang. Seorang bijak mengatakan kepadaku bahwa itu adalah perbuatan dosa. Apakah kalian mau ikut menanggung dosa-dosa yang aku lakukan?"

 

Tidak seorangpun anggota keluarganya bersedia untuk ikut menanggung dosanya. Mereka semua berkata: "Tugasmulah untuk menanggung kehidupan kami. Kami tidak mau ikut menanggung dosamu."

 

Vālmiki menyadari kesalahannya dan meminta orang bijak untuk menunjukkan jalan yang harus dilakukannya untuk menebus dosa-dosanya. Orang bijak memberi Vālmiki mantra "Rāma" yang paling kuat dan paling sederhana untuk dichantingkan serta mengajarkan kepadanya cara memuja-Nya dan bermeditasi pada-Nya.

 

Perampok jalanan ini menghentikan kegiatan yang berdosa yang pernah dilakukannya dan tidak lama kemudian menjadi seorang Rsi yang sangat bijak. Atas anugerah guru Nārada, ia menjadi penulis dengan kekuatan mantra dan latihan spiritual yang tulus.

 

Ada juga cerita lain, Jai, yang engkau harus selalu ingat. Ini menggambarkan ayat-ayat Gita yang mengatakan Krishna mengurus kita semua. (Gita 9.17-18).

 

 

12. Tapak Kaki

 

Suatu malam, seorang laki-laki bermimpi. Dia bermimpi sedang berjalan sepanjang pantai dengan Tuhan. Di langit ia melihat adegan-adegan dari hidupnya. Pada setiap adegan, ia melihat dua pasang jejak kaki di pasir, satu milik dia, dan yang lain milik Tuhan.

 

Ketika tiba adegan terakhir dalam hidupnya, ia menoleh ke belakang pada jejak kaki di pasir. Dia melihat banyak kali, sepanjang jalan hidupnya hanya ada satu pasang jejak kaki. Dia juga menyadari bahwa hal itu terjadi saat tersulit dan saat paling menyedihkan dalam hidupnya.

 

Ini benar-benar mengganggunya, dan ia menanyakan hal itu kepada Tuhan.

 

"Tuhan, Engkau mengatakan bahwa tidak ada seorangpun yang Engkau lebih benci atau lebih sayangi, dan bahwa Engkau selalu bersama orang-orang yang menyembah-Mu dengan cinta dan kesetiaan. (Gita 9,29) Aku telah memperhatikan bahwa selama masa paling sulit dalam hidupku, hanya ada satu pasang jejak kaki. Aku tidak mengerti mengapa, ketika aku paling memerlukan-Mu, Engkau meninggalkan aku sendirian."

 

Tuhan menjawab,"Anakku, kau adalah jivaku sendiri. Aku mencintaimu, dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu, bahkan jika kau kadang-kadang meninggalkan Aku. Selama waktu percobaan dan penderitaanmu, ketika kau hanya melihat satu pasang jejak kaki, itu karena aku menggendongmu. Jika engkau tertimpa masalah, hal itu disebabkan oleh Karmāmu sendiri. Itulah saat kau diuji agar dapat tumbuh lebih kuat."

 

Tuhan Krishna berkata di dalam Gita: "Aku secara pribadi mengurus kebutuhan penyembah-Ku yang selalu ingat dan mengasihi Aku." (Gita 9,22)

 

Bab 9 Ringkasan: filsafat dualistik melihat Tuhan sebagai satu kenyataan dan penciptaan sebagai suatu realitas yang berbeda, yang tergantung pada-Nya. Filsafat non-dual melihat Tuhan dan ciptaan-Nya sebagai satu. Tuhan mengasihi kita semua sama, tetapi Dia secara pribadi memperhatikan kepentingan bhakta-Nya karena orang semacam itu lebih dekat kepada-Nya. Sama seperti seseorang yang menjadi lebih panas jika seseorang duduk dekat api. Tidak ada dosa atau pendosa yang tidak terampuni. Api pertobatan yang tulus membakar semua dosa.

 

 

BAB 10

MANIFESTASI TUHAN

 

Jai: Jika Krishna berkata Ia akan mengurus kita jika kita selalu ingat dan memuja-Nya, aku ingin lebih tahu Tuhan dan mencintai-Nya. Bagaimana cara melakukan itu, nek?

 

Nenek: Cinta pada Tuhan disebut pengabdian (Bhakti). Jika engkau memiliki pengabdian, Tuhan akan memberimu kesadaran dan pemahaman tentang diri sejati. (Gita 10.10). Semakin banyak engkau tahu dan berpikir tentang kemuliaan, kekuasaan dan kebesaran Tuhan, cintamu akan tumbuh semakin kuat. Dengan demikian, pengetahuan dan kasih Tuhan berjalan seiring.

 

Jai: Tuhan begitu besar dan kuat, bagaimana aku bisa benar-benar mengenal-Nya?

Nenek: Tidak ada yang dapat sepenuhnya mengenal Tuhan. Dia adalah penyebab dan penguasa energi kosmis, suatu sebab yang akan tetap menjadi misteri besar. Tuhan tidak dilahirkan, tanpa awal atau akhir. Hanya Tuhan yang dapat benar-benar tahu Tuhan! (Gita 10.15) Jika seseorang berkata, aku tahu Tuhan, orang itu tidak tahu. Seseorang yang mengetahui kebenaran berkata: Aku tidak mengenal Tuhan.

 

Jai: Lalu apa yang bisa kita ketahui tentang Tuhan, nek?

 

Nenek: Tuhan mengetahui segala sesuatu, tapi tidak ada yang dapat mengenal Tuhan. Menurut Sankara, seluruh ciptaan tidak lain hanyalah bentuk lain dari Tuhan. Ciptaan keluar dari energi Tuhan yang disebut Māyā. Segala sesuatu berasal dari-Nya dan akhirnya kembali kepada-Nya. Tuhan hanya satu, tetapi telah menjadi banyak. Dia di mana-mana dan ada dalam segala sesuatu. (Gita 10,1939). Dia adalah Generator atau pencipta, Operator atau pengelola, dan Destroyer atau pelebur semua ciptaan-Nya. Dia menciptakan segala sesuatu, termasuk matahari, bulan, bintang, angin, air, udara, api, dan bahkan pikiran, perasaan, kecerdasan, dan kualitas lainnya. Kita bisa melihat kemuliaan dan kebesaran-Nya pada seluruh ciptaan-Nya. Indahnya bumi dan langit dengan semua planet yang engkau lihat hanyalah sebagian kecil dari kemuliaan-Nya. Melihat Tuhan ada di mana-mana akan memurnikan pikiran kita dan membuat kita menjadi orang yang lebih baik. Berikut ini adalah cerita tentang mengapa kita tahu sedikit tentang Tuhan. (Gita 10.15).

 

 

13. Empat Orang Buta

 

Empat orang buta pergi untuk mengetahui gajah. Orang pertama menyentuh kaki gajah dan berkata, "gajah seperti sebuah tiang."

 

Orang kedua menyentuh belalainya dan berkata, "gajah seperti sebuah bulatan tebal."

 

Yang ketiga menyentuh perutnya dan berkata, "gajah seperti sebuah guci besar."

 

Orang keempat menyentuh telinga dan berkata, "gajah itu seperti kipas tangan yang besar."

 

Merekapun mulai bertengkar mengenai bentuk gajah.

 

Seseorang yang lewat dan melihat mereka bertengkar, berkata, "Mengapa kalian semua bertengkar?" Mereka menceritakan masalahnya dan memintanya untuk menjadi hakim.

 

Pria itu berkata: "Tidak seorang pun dari engkau telah melihat gajah. Gajah tidak seperti sebuah tiang; kakinyalah yang seperti tiang-tiang. Dia tidak seperti bulatan tebal; belalainyalah yang seperti bulatan tebal. Dia tidak seperti sebuah guci besar; perutnyalah yang seperti guci besar. Ia tidak seperti kipas; telinganyalah yang seperti kipas. Gajah terdiri dari kaki, badan, perut, telinga, dan banyak lagi."

 

Dengan cara yang sama, orang-orang yang berdebat tentang sifat Tuhan hanya mengenal sebagian kecil dari realitas-Nya. Itu sebabnya orang bijak mengatakan bahwa Tuhan "bukan ini, atau itu."

 

Jai: Bagaimana dengan orang-orang yang tidak percaya pada Tuhan?

 

Nenek: Orang-orang semacam ini disebut atheis atau kafir. Mereka tidak percaya adanya pencipta karena mereka tidak bisa memahami bagaimana suatu kekuasaan kosmik bisa ada. Jadi, mereka mempertanyakan dan meragukan keberadaan Tuhan. Keraguan mereka dapat terhapus jika mereka menemukan guru spiritual sejati atas rahmat Tuhan. Atheis adalah orang-orang yang perjalanannya menuju Tuhan belum dimulai. Keraguan muncul bahkan dalam pikiran orang-orang yang percaya, karena itu, milikilah kepercayaan hanya pada Tuhan, dan lakukan tugasmu.

 

Bab 10 Ringkasan: Tidak seorang pun dapat mengenal Tuhan, Yang Mahatinggi, karena Dia adalah asal dari semua mahluk, penyebab dari segala sebab. Semuanya, termasuk tubuh kita, pikiran dan perasaan, berasal dari Tuhan. Dia adalah pencipta, pendukung, dan pelebur dari semua. Dia tak terbatas dan tidak mempunyai awal atau akhir. Seluruh alam semesta adalah perluasan sebagian kecil dari energi-Nya. (Gita 10,41-42). Semua Deva hanyalah nama-nama dari berbagai kekuatan-Nya. Menyembah Tuhan dengan kepercayaan dengan menggunakan nama bentuk dan metode apapun, memberi kita apa yang kita inginkan dan membantu kita menjadi baik dan damai.

 

 

BAB 11

VISI TUHAN

 

Jai: Nenek bilang kita dapat mengetahui sedikit tentang Tuhan. Apakah mungkin bagi orang untuk melihat Tuhan, nek?

 

Nenek: Ya, Jai. Tapi tidak dengan mata fisik kita. Tuhan tidak memiliki tangan dan kaki seperti yang kita miliki dalam dunia kita. Tetapi ketika Tuhan senang dengan pelayanan tanpa pamrih dan pengabdian kita (Sevā) Dia mungkin muncul dalam suatu penglihatan dalam mimpi. Dia dapat menunjukkan diri-Nya dalam bentuk apa pun, atau dalam bentuk Deva pribadi seseorang (IshtaDeva).

 

Jai: Apakah ada cara lain untuk melihat Tuhan?

 

Nenek: Cara terbaik untuk melihat Tuhan adalah dengan merasakan kehadiran-Nya dalam segala sesuatu karena segala sesuatu adalah bagian dari Tuhan. Seorang yogi melihat seluruh dunia sebagai perluasan Tuhan. Semuanya hanyalah bentuk lain dari Tuhan. Mengetahui hal ini, kita dapat melihat Tuhan di sekitar kita. Seluruh alam semesta adalah Tuhan, dan kita adalah anak-anak dan alat-alat-Nya. (Gita 11,33). Tuhan memakai kita untuk melakukan pekerjaan-Nya. Dia ada di dalam diri kita semua.

 

Berikut ini adalah cerita tentang Tuhan yang selalu bersama kita, tetapi kita tidak dapat melihat-Nya dengan mata fisik kita. (Gita 11,08)

14. Tuhan Selalu Bersamamu

 

Seorang laki-laki ingin merokok dan pergi ke rumah tetangganya untuk menyalakan api arang. Saat itu  tengah malam, dan pemilik rumah sedang tidur. Setelah ia mengetuk pintu beberapa kali, akhirnya tetangganya turun untuk membuka pintu.

 

Ketika tetangganya melihat orang itu, ia bertanya, "Apa yang terjadi?"

 

Orang itu menjawab," Apa kau tidak bisa menebak? Kau tahu aku suka merokok. Aku datang ke sini untuk minta api untuk menyalakan arangku."

 

Tetangganya berkata," Ha! Ha! Kau memang tetangga yang baik! Kau bersusah payah datang dan mengetuk pintu di tengah malam untuk menyalakan arang! Padahal kau membawa lentera yang menyala!"

 

Apa yang kita cari sangat dekat dan semua di sekitar kita. Semuanya adalah Tuhan dalam bentuk yang berbeda. Segala ciptaan-Nya ada didalam wujud-Nya yang maha besar!

Cara lain untuk melihat Tuhan adalah dengan mengembangkan pengabdian dan kualitas yang baik. Krishna berkata bahwa jika kita tidak memiliki keterikatan, keinginan egois, kebencian, permusuhan, atau kekerasan terhadap semua mahluk, kita dapat mencapai dan melihat Tuhan. (Gita 11,55)

 

Jai: Adakah orang yang melihat Krishna sebagai Tuhan?

 

Nenek: Ya, banyak orang-orang suci dan orang-orang bijak telah melihat Tuhan Krishna dalam berbagai bentuk. Ibu Yashodā melihat bentuk kosmik Krishna. Arjuna juga ingin melihat Krishna sebagai Tuhan. Karena Arjuna adalah jiva besar dan teman yang sangat dikasihi Krishna, Tuhan menunjukkan bentuk kosmik-Nya. Arjuna melihat apa yang dijelaskan dengan sangat rinci dalam Bab 11 dari Gita.

 

Berikut ini adalah penjelasan singkat mengenai bentuk kosmik Krishna yang dilihat Arjuna. Dia melihat seluruh dunia dengan segala Deva, orang suci, Deva Shiva, serta Deva Brahmā, duduk di teratai di tubuh Krishna. Tuhan memiliki banyak lengan, mulut, perut, wajah, dan mata. Tubuhnya tidak mempunyai awal atau akhir. Cahaya terang bersinar di sekeliling-Nya. Arjuna juga melihat semua sepupu-sepupunya, bersama dengan banyak raja-raja dan pejuang lainnya, dengan cepat masuk ke dalam mulut Tuhan yang menakutkan untuk dihancurkan. Bentuk kosmik Krishna ini sangat menakutkan untuk dilihat, sehingga Arjuna mohon agar Krishna kembali pada bentuk Vishnu berlengan empat, dengan sebuah mahkota, memegang sangka, cakra dan teratai di tangan-Nya. Krishna kemudian menunjukkan wujud Vishnu dengan empat lengan-Nya kepada Arjuna.

 

Setelah itu, Krishna menunjukkan wujud manusia-Nya yang tampan dan menghibur Arjuna yang ketakutan. Kemudian Arjuna menjadi damai dan normal lagi. Krishna mengatakan bahwa Ia dapat dilihat dalam wujud dengan empat lengan hanya melalui pengabdian. (Gita 11,54)

 

Bab 11 Ringkasan: Kita tidak dapat melihat Tuhan dengan mata manusia. Kita bisa melihat-Nya hanya dalam penglihatan batin (Samādhi). Kita juga dapat melihat-Nya di sekitar kita. Seluruh ciptaan-Nya tidak lain adalah tubuh sang pencipta, dan kita adalah bagian dari bentuk kosmis Tuhan.

 

 

BAB 12

JALAN PENGABDIAN

 

Jai: Haruskah kita berdoa atau bermeditasi setiap hari, nek, atau hanya pada hari Minggu, atau hari tertentu?

Nenek: Anak-anak harus melakukan beberapa bentuk pemujaan, doa, atau meditasi setiap hari. Kebiasaan yang baik harus dibentuk lebih awal.

 

Jai: Nenek bilang bahwa Tuhan tidak berwujud dan juga berwujud. Apakah aku harus memuja Tuhan dalam wujud Rāma, Krishna, Shiva, Durgā atau haruskah aku menyembah Tuhan yang tak berwujud?

 

Nenek: Arjuna menanyakan kepada Krishna pertanyaan yang sama dalam Gita. (Gita 12.01) Krishna mengatakan kepada Arjuna bahwa pemujaan Tuhan dengan wujud dengan kepercayaan, lebih mudah dan lebih baik bagi kebanyakan orang, terutama bagi pemula. Tapi pemuja sejati memiliki kepercayaan dalam segala sesuatu: Tuhan yang tak berwujud dan Tuhan yang berwujud seperti Rāma, Krishna, Hanumāna, Shiva, dan Ibu Ilahi Kali, Durgā.

 

Jai: Bagaimana caraku menyembah, nek?

 

Nenek: Pergi ke ruang Poojā, altar atau ruang meditasi sebelum berangkat ke sekolah dan berdoalah. Duduk tegak, tutup mata, ambil napas lambat dan dalam beberapa kali, ingat IshtaDeva-mu dan mintalah berkat-Nya. Fokuskan pikiranmu pada IshtaDeva-mu dengan mata tertutup. Ini disebut meditasi. Engkau bisa juga mengulang mantra seperti 'OM' atau ”Rām, Rām, Rām, Rām, Rām’ dalam hati, beberapa kali. 

Jai: Ketika aku mulai bermeditasi, aku tidak bisa memusatkan pikiranku, nek. Pikiranku mulai pergi ke mana-mana. Apa yang harus aku lakukan?

 

Nenek: Jangan khawatir, bahkan ini terjadi pada orang dewasa. Cobalah untuk berkonsentrasi atau fokus lagi dan lagi. Dengan latihan, engkau akan dapat memusatkan pikiranmu dengan baik, tidak hanya pada Tuhan, tetapi juga pada bahan pelajaran. Ini akan membantumu mendapatkan nilai bagus. Engkau juga dapat berdoa kepada Tuhan dan mempersembahkan buah-buahan, bunga kepada IshtaDeva-mu dengan kasih dan tulus. Juga, ingat Tuhan pemberi ilmu pengetahuan, seperti Ganesha, Hanumāna atau Ibu Sarasvati sebelum memulai pelajaranmu. Jangan egois. Bekerja keraslah. Terima hasil pekerjaanmu tanpa menjadi marah dengan hasil yang buruk. Cobalah untuk belajar dari kegagalanmu. Jangan pernah menyerah dan perbaiki dirimu sendiri.

 

Jai: Itukah semua yang harus aku lakukan, nek? Apakah Krishna mengatakan hal lain?

 

Nenek: Engkau juga harus mengembangkan kebiasaan yang baik seperti mematuhi orang tuamu, membantu orang lain yang membutuhkan, tidak menyakiti siapa pun, bersikap ramah terhadap semua orang, meminta maaf jika engkau menyakiti siapa pun, menjaga pikiranmu agar tetap tenang, bersyukur kepada mereka yang telah membantumu dan mengucapkan terima kasih. Tuhan mengasihi dan membantu orang-orang yang bertindak dengan cara ini. Orang-orang seperti ini disebut Bhakta. (Gita 12,13-19).  Jika engkau tidak memiliki salah satu kebiasaan baik ini, berusaha keraslah untuk mengembangkannya. (Gita 12,20)

 

Jai: Apakah mungkin bagi seorang anak untuk menjadi seorang Bhakta?

 

Nenek: Nenek sudah ceritakan kisah Dhruva. Sekarang nenek akan menceritakan kisah tentang anak lain, seorang Bhakta. Namanya Prahlāda.

 

 

15. Bhakta Prahlāda

 

Hiranyakasipu adalah raja raksasa. Dia melakukan praktek spiritual dengan sangat keras, dan Deva Brahmā memberinya anugrah bahwa ia tidak dapat dibunuh oleh manusia atau binatang. Anugrah ini membuatnya sombong, dan dia menteror ke tiga dunia, mengatakan bahwa tidak ada Tuhan lain selain dirinya dan semua orang harus menyembah-Nya.

 

Dia punya seorang putra bernama Prahlāda, seorang anak religius yang selalu menyembah Tuhan Vishnu. Ini membuat ayahnya sangat marah, ia ingin menghilangkan pemikiran Vishnu dari pikiran anaknya, sehingga ia menyerahkan anaknya kepada seorang guru yang sangat keras untuk melatih dia untuk hanya menyembah Hiranyakasipu sebagai Tuhan dan bukan menyembah Vishnu.

 

Prahlāda tidak hanya menolak untuk mendengarkan sang guru, tetapi mulai mengajar siswa lain untuk menyembah Vishnu. Gurunya sangat marah dan melaporkan kepada Raja.

 

Sang Raja berlari ke kamar anaknya, dan berteriak, "Aku mendengar kau telah menyembah Vishnu!"

 

Dengan gemetar, Prahlāda berkata pelan, "Ya ayah."

 

"Berjanjilah padaku bahwa kau tidak akan melakukannya lagi!" kata raja.

 

"Aku tidak bisa menjanjikan itu ayah" Prahlāda langsung menjawab.

 

"Kalau begitu aku akan membunuhmu," teriak Raja.

 

"Tidak bisa, kecuali diinginkan DevaVishnu," jawab si anak.

 

Sang Raja mencoba semua kekuatannya untuk merubah pikiran Prahlāda, tapi tak satupun berhasil.

 

Ia kemudian memerintahkan para pengawal untuk melemparkan Prahlāda ke laut, berharap agar Prahlāda takut dan berjanji untuk tidak lagi menyembah Vishnu. Tapi Prahlāda tetap setia pada Vishnu dan terus berdoa kepada-Nya dalam hatinya dengan cinta dan kesetiaan. Penjaga mengikatnya ke sebuah batu besar dan melemparkannya ke dalam laut. Atas rahmat Tuhan, batu itu terjatuh dan Prahlāda mengapung kepermukaan air dan terdampar di pantai dengan selamat. Dia terkejut melihat Vishnu di pantai.

Vishnu tersenyum padanya dan berkata, "Mintalah padaku apa saja yang engkau inginkan."

 

Prahlāda menjawab, "Aku tidak ingin kerajaan, kekayaan, surga, atau umur panjang. Aku hanya ingin kekuatan untuk selalu mencintai-Mu dan tidak pernah mengubah pikiranku menjauh dari-Mu."

 

Vishnu mengabulkan keinginan Prahlāda.

 

Ketika Prahlāda kembali ke istana ayahnya, raja tertegun melihatnya masih hidup.

 

"Siapa yang mengeluarkanmu dari laut?" raja bertanya.

 

"Deva Vishnu," kata si anak, polos.

 

"Jangan sebut nama itu dihadapanku," teriak ayahnya. "Di mana Deva Vishnu-mu? Tunjukkan dia padaku," ia menantang.

 

"Dia di mana-mana," jawab si anak.

 

"Bahkan dalam pilar ini?" Tanya Raja."

 

"Ya, bahkan di pilar ini!" Jawab Prahlāda yakin.

"Kalau begitu suruh dia muncul di depanku dalam bentuk apapun yang ia inginkan," seru Hiranyakasipu dan memecahkan pilar itu dengan senjata besinya.

 

Tiba-tiba melompat keluar dari dalam pilar satu mahluk bernama Narasinga, yang setengah manusia dan setengah singa. Hiranyakasipu, berdiri tak berdaya di hadapannya. Takut, ia berteriak minta tolong, tetapi tidak ada yang datang menolongnya.

 

Narasinga mengangkat Hiranyakasipu dan meletakkannya di pangkuannya, di mana tubuhnya dirobek-robek. hingga menemui ajalnya.

 

Tuhan memberkati Prahlāda karena kepercayaannya yang mendalam. Setelah kematian Hiranyakasipu, para raksasa itu hancur, dan Deva mengambil alih dunia sekali lagi dari raksasa. Sampai hari ini, nama Prahlāda dimasukkan diantara pemuja besar.

 

Bab 12 Ringkasan: Jalan kesetiaan pada Tuhan sangat mudah dilatih. Jalan ini terdiri dari pemujaan pada para Deva setiap hari, mempersembahkan buah-buahan dan bunga, menyanyikan lagu pujian (Bhajan) untuk memuji kemuliaan Tuhan, dan mengembangkan kebiasaan baik tertentu.

 

 

 

BAB 13

CIPTAAN DAN SANG PENCIPTA

 

Jai: Nek, aku bisa makan dan tidur dan berpikir dan berbicara dan berjalan dan berlari dan bekerja dan belajar. Bagaimana tubuhku tahu cara melakukan semua ini?

 

Nenek: Seluruh dunia, termasuk tubuh kita, terbuat dari lima unsur dasar atau materi. Unsur-unsur ini adalah: tanah, air, api, udara, dan eter atau elemen tak terlihat. Kita memiliki sebelas indera: lima indera perasa (hidung, lidah, mata, kulit, dan telinga); lima organ tindakan (mulut, tangan, kaki, dubur, dan uretra), dan pikiran. Kita mencium bau melalui hidung, rasa melalui lidah kita, melihat melalui mata, merasakan sentuhan melalui kulit, dan mendengar melalui telinga kita. Kita juga memiliki perasaan dimana kita bisa merasakan sakit dan senang. Semua ini memberikan tubuh kita apa yang dibutuhkan untuk bekerja. (Gita 13.05-06) Roh atau Atmā di dalam tubuh kita juga disebut Prāna. Prāna memberikan kekuatan pada tubuh untuk melakukan semua kegiatan. Ketika Prāna meninggalkan tubuh, maka kita mati.

 

Jai: Nenek mengatakan Tuhan adalah pencipta alam semesta. Bagaimana kita tahu ada pencipta atau Tuhan?

 

Nenek: Pasti ada pencipta di balik setiap ciptaan, Jai. Seseorang atau suatu kekuasaan membuat mobil yang kita kendarai dan rumah yang kita tinggali. Seseorang atau suatu kekuasaan menciptakan matahari, bumi, bulan dan bintang-bintang. Kita sebut orang atau kekuatan itu Tuhan atau pencipta alam semesta ini.

 

Jai: Jika segala sesuatu memiliki pencipta, lalu siapa yang menciptakan Tuhan?

 

Nenek: Ini pertanyaan yang sangat bagus, Jai, tetapi tidak ada jawabannya. Tuhan selalu ada dan akan selalu ada. Tuhan adalah asal dari segala sesuatu, tetapi Tuhan tidak memiliki asal usul. Ya Tuhan adalah sumber dari segala sesuatu, tetapi Dia tidak memiliki sumber!

 

Jai: Lalu, seperti apakah Tuhan, nek? Bisakah nenek menggambarkan-Nya?

 

Nenek: Tidak mungkin untuk menggambarkan Tuhan secara langsung. Yang Mahatinggi hanya dapat digambarkan dengan perumpamaan, dan tidak ada cara lain. Tangan, kaki, mata, kepala, mulut, dan telinga-Nya ada di mana-mana. Ia dapat melihat, merasakan, dan menikmati tanpa organ fisik. Dia tidak memiliki tubuh seperti kita. Tubuh dan indera-Nya ada di luar dunia ini. Dia berjalan tanpa kaki, mendengar tanpa telinga, melakukan semua pekerjaan tanpa tangan, mencium bau tanpa hidung, melihat tanpa mata, berbicara tanpa mulut, dan menikmati semua rasa tanpa lidah. Kegiatan-Nya begitu mengagumkan. Kebesaran-Nya tak terlukiskan. Tuhan hadir di mana-mana sepanjang waktu, sehingga Dia sangat dekat (tinggal di hati kita) serta jauh di alam-Nya. Dia adalah pencipta (Brahmā), pemelihara (Vishnu) dan pelebur (Shiva), semua dalam satu. (Gita 13.13-16). Cara terbaik untuk mengilustrasikan mengapa tidak ada yang dapat menggambarkan Tuhan (Gita 13,12-18) adalah dengan cerita tentang boneka garam.

 

 

16. Boneka Garam

 

Suatu kali, sebuah boneka garam pergi untuk mengukur kedalaman laut sehingga ia dapat menceritakan kepada yang lain seberapa dalam lautan itu. Tapi pada saat masuk ke air, ia mencair sehingga tidak ada yang bisa melaporkan kedalaman laut. Sama seperti itulah mengapa tidak mungkin bagi siapapun untuk menggambarkan Tuhan. Setiap kali kita berusaha, kita melebur menyatu dengan lautan realitas-Nya yang misterius. Kita tidak bisa menggambarkan Brahman. Dalam Samādhi kita dapat mengetahui Brahman, tetapi dalam penalaran dan intelek pengetahuan ini hilang sama sekali. Ini berarti orang tidak dapat mengingat pengalamannya semasa Samādhi. Seseorang yang mengetahui Brahman akan menjadi Brahman (Gita 18,55) dan tidak dapat menjelaskannya, sama seperti boneka garam mencair ke laut dan tidak bisa melaporkan kedalaman laut. Mereka yang bicara tentang Tuhan tidak memiliki pengalaman nyata. Demikianlah, Brahman hanya dapat dialami dan dirasakan.

 

Jai: Lalu bagaimana kita dapat mengetahui dan memahami Tuhan?

 

Nenek: Engkau tidak dapat mengenal Tuhan dengan pikiran dan intelek. Dia dapat diketahui hanya dengan keyakinan dan kepercayaan. Ia juga dapat dikenal dengan kesadaran tentang diri sejati. Tuhan yang satu dan sama hidup di dalam tubuh semua mahluk sebagai Roh dan mendukung kita. Itulah sebabnya mengapa kita tidak boleh menyakiti siapa pun dan harus memperlakukan semua orang sama. (Gita 13,28).  Melukai orang lain sama seperti menyakiti Atmā kita sendiri. Atmā di dalam tubuh adalah saksi, pemandu, para pendukung, para penikmat, dan pengendali dari semua peristiwa. (Gita 13,22)

 

Jai: Apa perbedaan antara pencipta dan ciptaan-Nya?

 

Nenek: Dari sudut pandang non-dualistik, tidak ada perbedaan antara keduanya. Perbedaan antara pencipta dan ciptaan seperti perbedaan antara matahari dan sinar matahari. Mereka yang memiliki kesadaran diri benar-benar memahami perbedaan antara pencipta dan ciptaan-Nya dan memiliki kesadaran akan Tuhan. (Gita 13,34). Seluruh alam semesta adalah perluasan-Nya, dan segala sesuatu adalah Dia. Tuhan adalah pencipta dan ciptaan-Nya, pelindung dan yang dilindungi, perusak dan yang dihancurkan. Dia ada di dalam kita, di luar kita, dekat, jauh, dan di mana-mana.

 

Jika berkat Tuhan datang kepadamu, Dia akan memberi tahu siapa engkau sesungguhnya dan apa engkau sebenarnya. Berikut ini adalah cerita bagaimana Jiva Agung menjadi jiva individu (jiva), lupa pada sifatnya yang sebenarnya dan mencoba untuk mengetahui sifatnya yang sebenarnya. (Gita 13,21)

 

 

17. Seekor Harimau Vegetarian

 

Suatu kali seekor harimau betina menyerang kawanan domba. Dia sedang hamil dan sangat lemah. Ketika ia melompat menyerang mangsanya, ia melahirkan seekor bayi harimau dan mati beberapa jam kemudian. Bayi harimau dibesarkan oleh domba. Domba makan rumput, sehingga bayi harimau mengikuti cara mereka. Ketika domba mengembik, bayi harimau juga ikut mengembik seperti domba. Bayi harimau itu berangsur-angsur tumbuh menjadi harimau besar. Suatu hari, harimau lain menyerang kawanan domba yang sama. Harimau itu terkejut melihat ada harimau pemakan rumput di kawanan domba tersebut. Harimau liar itu menyerang si harimau pemakan rumput yang kemudian mulai mengembik seperti domba. Harimau liar menyeretnya ke dalam air dan berkata: "Lihatlah wajahmu di dalam air. Kau sama seperti aku. Ini ada sedikit daging. Makanlah" kata harimau liar sambil menaruh sepotong daging ke mulut harimau vegetarian itu.

Namun harimau vegetarian tidak mau menerimanya dan mulai mengembik lagi. Secara perlahan, ia merasakan darah dari daging yang dijejalkan ke mulutnya dan mulai menyukainya.

 

Kemudian harimau liar berkata: "Sekarang kau tahu, tidak ada perbedaan antara kau dan aku. Ikuti aku ke dalam hutan."

 

Kita selalu berpikir bahwa kita adalah tubuh ini yang dibatasi oleh ruang dan waktu. Kita bukanlah tubuh ini. Kita adalah Roh yang sangat berkuasa dalam tubuh.

 

Bab 13 Ringkasan: Tubuh kita seperti sebuah miniatur alam semesta. Tubuh terdiri dari lima elemen dasar dan didukung oleh Roh. Setiap ciptaan harus memiliki pencipta atau kekuatan kreatif di baliknya. Kekuatan itu kita sebut dengan berbagai nama seperti Krishna, Shiva, Ibu, Ayah, Ishvara, Allah, Tuhan, Jehovā, dll. Tuhan tidak dapat diketahui, dilihat, digambarkan, atau dipahami oleh pikiran manusia. Pencipta sendiri telah menjadi ciptaan seperti kapas menjadi benang, kain, dan pakaian. 

BAB 14

TIGA SIFAT ALAM

 

Jai: Nenek, kadang-kadang aku merasa malas, dan pada saat lain aku sangat aktif. Kenapa begitu?

 

Nenek: Kita semua memiliki sifat yang berbeda untuk melakukan sesuatu. Ada tiga jenis sifat (Guna). Ketiga jenis sifat itu adalah: sifat kebaikan (Sattva), sifat nafsu (Rajas), dan sifat kebodohan (Tamas). Kita di bawah pengaruh dari ketiga sifat itu. Kadang-kadang satu sifat lebih kuat daripada dua lainnya.

 

Sifat kebaikan membuat engkau damai dan bahagia. Dalam sifat ini engkau akan belajar kitab suci, tidak akan merugikan siapa pun, dan akan bekerja dengan jujur. Ketika engkau berada dalam sifat nafsu, engkau menjadi serakah untuk kekayaan dan kekuasaan. Engkau akan bekerja keras untuk menikmati kesenangan materi dan akan melakukan apapun untuk memenuhi keinginan egoismu. Ketika engkau berada dalam sifat kebodohan, engkau tidak bisa membedakan antara tindakan yang benar dan salah, dan akan melakukan tindakan dosa dan terlarang. Engkau menjadi malas dan ceroboh, kurang tertarik pada pengetahuan spiritual. (Gita 14,05-09).

 

Jai: Apakah tiga sifat ini mengendalikan kita, Nek, atau kita memiliki kendali atas apa yang kita lakukan?

 

Nenek: Sebenarnya, ketiga sifat itu pelaku semua tindakan. (Gita 3,27). Ketika kita berada di bawah pengaruh sifat kebaikan, kita berbuat baik dan benar; di bawah pengaruh sifat nafsu, kita lakukan tindakan egois dan di bawah pengaruh sifat kebodohan, yang kita lakukan hal buruk atau menjadi malas. (Gita 14,11-13). Kita harus mengatasi ketiga guna untuk mencapai pembebasan (Nirvāna). (Gita 14,20).

 

Jai: Akan seperti apakah kita ketika kita dapat mengatasi ketiga guna?

 

Nenek: Ketika kita mampu mengatasi ketiga guna, kita tidak terpengaruh oleh rasa sakit dan senang, kesuksesan dan kegagalan, dan kita memperlakukan semua orang seperti kita. Orang semacam itu tidak tergantung pada siapa pun kecuali Tuhan.

 

Jai: Pasti sangat sulit mengatasi ketiga sifat itu. Bagaimana aku bisa mengatasi ketiga Guna itu, nek?

 

Nenek: Untuk mengatasi ketiga Guna tidaklah mudah, tapi bisa dilakukan dengan usaha. Jika engkau berada di bawah pengaruh sifat kebodohan atau kemalasan, engkau harus berhenti malas, berhenti menunda-nunda apa yang seharusnya engkau lakukan, dan mulai membantu orang lain. Ini akan membawa engkau ke sifat kebaikan. Jika engkau berada di bawah sifat nafsu, engkau harus berhenti bersikap egois dan serakah dan membantu orang lain. Ini akan membawamu ke sifat kebaikan. Setelah mencapai sifat kebaikan, engkau bisa mengatasi ketiga Guna dengan pengabdian kepada Tuhan. Krishna berkata: Orang yang melayani Aku dengan cinta dan kesetiaan mengatasi ketiga Guna dan bisa menyadari adanya Tuhan. (Gita 14,26).

 

Berikut adalah sebuah cerita tentang sifat dari tiga Guna.

 

 

18. Tiga Perampok di Jalan

 

Ada seorang laki-laki sedang melewati hutan ketika tiba-tiba tiga perampok menyerang dan merampoknya.

Salah seorang perampok lalu berkata, "Apa gunanya membiarkan orang ini hidup?"

Dia sudah hampir membunuhnya dengan pedang ketika perampok kedua menghentikannya, dan berkata: "Apa gunanya membunuh dia? Ikat dia ke sebatang pohon dan tinggalkan."

 

Para perampok mengikatnya ke sebatang pohon dan pergi.

 

Setelah beberapa saat, perampok ketiga kembali menemui orang yang terikat itu dan berkata: "Aku menyesal, apakah kau terluka? Aku akan melepaskanmu."

 

Setelah melepaskannya, si perampok berkata: "Mari ikut aku. Aku akan membawamu ke jalan umum."

 

Setelah beberapa lama, mereka tiba di jalan. Lalu orang itu berkata kepada perampok ketiga: "Pak, Bapak telah sangat baik kepadaku. Mari ikut aku ke rumahku."

 

"Oh tidak!" Jawab si perampok, "Aku tidak bisa pergi ke sana. Polisi akan tahu."

 

Hutan bisa diandaikan dunia ini. Ketiga perampok adalah tiga Guna: kebaikan, nafsu dan kemalasan. Inilah yang merampok kesadaran diri kita. Kemalasan ingin menghancurkan kita. Nafsu mengikat kita pada dunia. Kebaikan membebaskan kita dari cengkeraman nafsu dan kemalasan. Di bawah perlindungan kebaikan, kita diselamatkan dari amarah, nafsu, ketamakan dan kemalasan. Kebaikan juga melonggarkan ikatan dunia. Tetapi kebaikan juga seorang perampok. Tidak dapat memberi kita pengetahuan yang sejati tentang Tuhan. Kebaikan hanya dapat menunjukkan jalan menuju ke rumah Tuhan kepada kita.  Kita harus mengatasi ketiga Guna dan mengembangkan cinta pada Tuhan.

 

Bab 14 Ringkasan: Alam menempatkan kita ke dalam tiga sifat untuk melaksanakan tugasnya melalui kita. Sebenarnya, semua kegiatan dilakukan oleh ketiga Guna ini. Kita bukan pelaku, tapi kita bertanggung jawab atas tindakan kita, karena kita diberi pikiran dan kebebasan untuk memutuskan dan memilih antara tindakan yang benar dan salah. Engkau dapat melepaskan diri dari pengaruh ketiga Guna dengan upaya yang tulus, pengabdian kepada Tuhan dan rahmat-Nya.

 

 

BAB 15

YANG MAHA AGUNG

 

Jai: Nek, aku bingung dengan perbedaan antara Roh Agung, Roh, Mahluk Tuhan dan jiva individu. Tolong jelaskan lagi ya nek?

 

Nenek: Ya, Jai, ini adalah istilah-istilah yang kau harus mengerti dengan baik. Roh Agung juga disebut Ia Yang Maha Tinggi, Yang Mutlak, Bapa, Ibu, Tuhan, Ishvara, Allah dan banyak nama lain. Roh Agung disebut ParaBrahma, Paramātmā, ParamaShiva, atau Krishna dalam bahasa Sanskerta. Roh Agung adalah sumber atau akar dari segalanya. Tidak ada yang lebih tinggi dari Roh Agung.

 

Roh (Brahman atau Atmā) adalah bagian dari Roh Agung yang memnyebar dan mendukung seluruh kosmos.

 

Mahluk Ilahi (Deva, Devi), seperti Brahmā, Shiva dan Vishnu, dan yang lainnya, adalah perluasan Brahman (Roh).

 

Masing-masing jiva, seperti semua mahluk hidup, adalah perluasan Mahluk Ilahi.

 

Roh tertinggi tidak berubah dan ada selamanya. Mahluk ilahi keluar dari Roh dan memiliki rentang hidup yang sangat panjang. Sedangkan jiva individu atau mahluk hidup memiliki hidup sangat terbatas.

 

Jika engkau umpamakan penciptaan dengan pohon, maka Krishna (Roh Agung) sebagai akar pohon. Atmā atau Brahman (juga ditulis Brahma, Brahm) adalah batang pohon. Kosmos adalah cabang-cabang pohon, dan kitab suci, seperti Veda, Upanisad, dan Gita, Dhammapāda, Taurat, Alkitab, Quran, dll adalah daunnya. Masing-masing jiva, seperti mahluk hidup, adalah buah-buah dan bunga-bunga dari pohon. Bisakah engkau melihat bagaimana semuanya terhubung dan menjadi bagian dari Yang Mahatinggi?

 

Jai: Bagaimana dengan planet-planet, seperti matahari, bulan dan bintang-bintang?

 

Nenek: Seluruh dunia yang kelihatan, seperti matahari, bulan, bumi, planet-planet lain , dan galaksi, diciptakan oleh Deva Brahmā dan didukung oleh Deva Vishnu dan dihancurkan oleh Deva Shiva. Ingatlah bahwa, Brahmā, Vishnu, Shiva adalah bagian dari energi dari Roh Mahatinggi atau Brahman. Energi cahaya matahari juga datang dari Brahman, dan Brahman adalah bagian dari Yang Mahatinggi, Krishna. Para bijak mengatakan kepada kita bahwa segala sesuatu tidak lain hanyalah bentuk lain Krishna, Yang Mahatinggi. Krishna ada di dalam dan di luar segalanya. Dia menjadi segalanya. Yang Satu telah menjadi semua. Dia juga turun ke dunia dalam bentuk manusia untuk menetapkan hukum dan ketertiban (Dharma) bila diperlukan. (Gita 4.07-08).

 

Berikut adalah sebuah cerita ketika Tuhan yang Agung sendiri menjelma sebagai Krishna sekitar 5.100 tahun yang lalu.

 

 

19. Cerita tentang Krishna Kecil

 

Krishna Kecil mempunyai kakak angkat laki-laki bernama Balarāma. Keduanya biasa bermain bersama-sama di desa Gokul. Krishna dilahirkan oleh ibu Devaki. Nama ayahnya adalah Vāsudeva. Krishna juga disebut Vāsudeva. Krishna menghabiskan masa kecil-Nya di bawah asuhan Bibi Yashodā. Balarāma dan Krishna adalah anak-anak kesayangan para pemerah susu di desa itu. Ibu mereka sangat mencintai mereka. Yashodā dan Rohini (Ibu Balarāma) memberikan pakaian berwarna-warni pada mereka. Krishna dengan pakaian kuning dengan mahkota bulu merak pada rambut-Nya, dan Balarāma dengan warna biru. Kedua anak laki-laki ini pergi dari satu tempat ke tempat lain, mempunyai teman di mana pun mereka pergi. Kemanapun mereka pergi selalu membuat masalah!

 

Suatu hari, mereka bermain di luar dengan beberapa anak laki-laki lainnya, menggali tanah, membuat kue lumpur sehingga menjadi sangat kotor. Setelah beberapa saat, salah seorang anak laki-laki yang lebih tua berlari ke ibu Yashodā dan berkata, "Krishna sangat nakal, Dia makan tanah liat!" Yashodā kesal pada kelakuan putranya. Dia juga pernah mendengar keluhan dari warga desa lain bahwa Krishna  telah mencuri mentega dari rumah mereka.

Dia keluar dari rumahnya dan bertanya dengan marah kepada Krishna, "Apakah engkau benar-benar memakan tanah liat, Krishna? Berapa kali aku bilang jangan makan sembarangan!"

 

Krishna tidak mau dihukum, sehingga ia menggoda ibu Yashodā. . Dia membuka mulut-Nya lebar dan berkata, "Lihat, Ibu, aku belum makan apa-apa. Anak-anak ini hanya berbohong agar aku kena hukum."

 

Yashodā melihat ke dalam mulut Krishna. Di sana, di mulut anak kecil itu, ia melihat seluruh alam semesta --- Bumi dan bintang-bintang, ruang kosong yang lebar, dan seluruh galaksi Bima Sakti, lautan dan gunung-gunung, matahari dan bulan. Semua ada di dalam mulut-Nya. Ia sadar bahwa Krishna adalah jelmaan Deva Vishnu, dan ia segera menjatuhkan diri di hadapan-Nya dan menyembah-Nya.

 

Tetapi Krishna tidak ingin disembah olehnya. Dia hanya ingin ia mencintai-Nya sama seperti seorang ibu mencintai anak-anak mereka. Dia bisa saja turun ke dunia dalam bentuk apapun untuk melawan kejahatan, tetapi Dia suka menjadi seorang anak kecil bagi seorang ibu dan seorang ayah yang telah melakukan banyak praktek spiritual yang sulit untuk memiliki Tuhan sebagai anak mereka. Krishna kecil menyadari bahwa trik-Nya merupakan kesalahan besar!

 

Dengan cepat, Dia menyebarkan kekuatan Māyā-Nya. Menit berikutnya Yashodā memangku anaknya seperti biasa, tanpa ingat sama sekali apa yang baru saja dilihatnya di mulut Krishna.

 

Engkau sebaiknya membaca cerita-cerita menarik dari petualangan dan trik Krishna dengan pemerah susu di desa jika punya waktu.

 

Tuhan juga datang sebagai orang suci atau guru untuk mengajar kita dari waktu ke waktu. Berikut adalah kisah tentang seorang suci:

 

 

20. Cerita tentang Shri Ramakrishna

 

Tuhan turun ke dunia ini sebagai Ramakrishna, lahir pada 18 Februari 1836, di desa Kamarpukur di Bengal Barat. Sebagian besar kisah-kisah yang nenek ceritakan kepadamu berasal dari "Kisah dan Perumpamaan Shri Ramakrishna." Swami Vivekananda adalah salah satu muridnya yang paling terkenal. Swami Vivekananda adalah yogi Hindu pertama yang datang ke Amerika Serikat pada tahun 1893. Ia mendirikan Vedanta Society di New York. Ramakrishna menjalani kehidupan yang sangat sederhana, tergantung pada Tuhan untuk makanan dan kebutuhan hidup lainnya sehari-hari. Ia tidak mau menerima uang. Ia menikah dengan Sarada Ma, yang ia perlakukan seperti ibunya dan tidak punya anak. Sarada Ma biasa memberitahu muridnya: "Jika engkau ingin ketenangan pikiran, jangan melihat kesalahan orang lain, melainkan lihat ke diri sendiri. Tidak seorang pun orang asing; seluruh dunia adalah dirimu sendiri." Sarada Ma juga memperingatkan murid-nya untuk tidak terlalu dekat dengan orang-orang dari lawan jenis, bahkan jika Tuhan datang dalam bentuk itu. Ramakrishna menyembah Devi Kali sebagai Deva pribadinya di sebuah kuil di Dakshineshvar dekat Kolkatta. Kuil ini masih ada hingga sekarang.

 

Bab 15 Ringkasan: Ciptaan bisa berubah dan tidak bertahan selamanya. Ciptaan memiliki jangka hidup terbatas. Brahman atau Atmā tidak berubah dan abadi. Ia adalah penyebab dari segala sebab. Krishna disebut ParaBrahma atau Yang Mahatinggi. Dia juga disebut Mutlak karena Dia tidak memiliki asal usul. Dia adalah sumber Brahman. Segala sesuatu di alam semesta berasal dari Brahman. Seluruh dunia dan semua mahluk diciptakan oleh Brahmā, sang pencipta; dipelihara oleh Vishnu dan dihancurkan oleh Shiva.

 

 

BAB 16

KARAKTER ILAHI DAN KARAKTER IBLIS

 

Jai: Aku bertemu berbagai jenis siswa di kelas. Ada berapa banyak jenis orang, nek?

 

Nenek: Umumnya, hanya ada dua jenis (atau kasta) orang-orang di dunia ini, yang baik dan yang buruk. (Gita 16,06).  Kebanyakan orang memiliki kedua sifat, baik dan buruk. Jika engkau memiliki lebih banyak sifat baik, engkau akan disebut orang baik, dan jika engkau memiliki lebih banyak sifat-sifat buruk, engkau disebut orang jahat.

 

Jai: Jika aku ingin menjadi orang yang baik, kualitas apa yang harus aku miliki?

 

Nenek: engkau harus jujur, tanpa kekerasan, benar, tanpa amarah, tenang, tanpa bicara menyakitkan, baik hati, tidak serakah, lembut, pemaaf, dan rendah hati. Ini juga disebut sifat-sifat ilahi karena sifat ini membawa kita kepada Tuhan.

 

Jai: Apa kebiasaan buruk yang perlu aku hindari?

 

Nenek: kemunafikan, kebohongan, kesombongan, iri hati, keegoisan, kemarahan, keserakahan, kekerasan, tidak bersyukur --- ini semua sifat buruk yang akan membawa kita jauh dari Tuhan. Kualitas buruk juga menuntun kita untuk melakukan hal-hal buruk dan menjerumuskan kita dalam kesulitan. Jangan berteman dengan orang-orang yang memiliki kualitas buruk karena mereka tidak tahu apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Selalulah berterima kasih kepada mereka yang telah membantumu. Tidak tahu berterima kasih adalah dosa besar yang tidak ada obatnya.

 

Nafsu, kemarahan, dan keserakahan sangat merusak. Krishna menyebutnya tiga pintu gerbang ke neraka. (Gita 16,21). Berikut adalah cerita tentang bagaimana keserakahan mengakibatkan kesedihan.

 

 

21. Kisah Seekor Anjing dan Tulang

 

Suatu hari seekor anjing menemukan sepotong tulang. Dia membawanya di mulutnya dan pergi ke sudut yang sepi untuk mengunyahnya. Dia duduk di sana dan mengunyah tulang selama beberapa saat. Kemudian anjing itu merasa haus dan membawa tulang itu di mulutnya dan berjalan di atas jembatan kayu kecil untuk minum air di sungai.

 

Ketika ia melihat bayangannya sendiri di air, ia pikir ada anjing lain dengan tulang di sungai. Karena mulai serakah, dia ingin memiliki tulang lain itu juga. Dia membuka mulutnya untuk menyalak dan mengambil tulang dari anjing lain. Begitu ia membuka mulut untuk mengambil tulang lainnya, tulang yang ada di mulutnya jatuh ke sungai. Anjing itu menyadari kesalahannya, tetapi terlambat.

 

Keserakahan dapat diatasi dengan menjadi puas dengan apa yang telah dimiliki. Orang yang puas adalah orang yang sangat bahagia. Seseorang yang serakah tidak dapat menemukan kedamaian sejati dan kebahagiaan dalam hidup.

 

Jai: Bagaimana aku bisa tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan?

 

Nenek: Ikuti buku-buku suci, Jai. Orang suci dan bijak memberi tahu kita apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan dalam kitab suci kita. Miliki keyakinan pada Tuhan, dan dengarkan orang tua dan para tetua.

 

Kita harus mengembangkan kebiasaan yang baik sebanyak mungkin. Tapi tak seorang pun hanya punya kebiasaan baik dan tidak punya kebiasaan buruk sama sekali. Tuhan memberikan kebiasaan baik dan buruk dalam satu paket yang sama.

 

Berikut adalah cerita tentang bagaimana Ratu Draupadi menemukan kebenaran ini dari pengalamannya sendiri.

 

 

22. Cerita tentang Ratu Draupadi

 

Draupadi adalah istri dari kelima Pāndava. Dia adalah putri seorang Rsi di masa lalunya. Dia sangat cantik dan berbudi luhur, tetapi dalam masa lalunya, karena Karmā masa lalunya, dia tidak bisa menikah. Ini membuatnya tidak bahagia. Jadi dia mulai bertapa untuk menyenangkan Deva Shiva. Setelah lama melakukan tapa yang sulit, Deva Shiva senang dan bertanya berkat apa yang diinginkannya. Dia minta seorang suami yang sangat spiritual, kuat, tentara yang sangat baik, tampan, dan lembut. Deva Shiva mengabulkan keinginannya.

Dalam kehidupan berikutnya, dia menikah dengan lima bersaudara, tetapi dia tidak begitu senang dengan situasi aneh ini. Draupadi adalah pemuja Krishna, yang mengetahui masa lalu, sekarang dan masa depan semua mahluk. Krishna tahu penyebab kesedihannya dan menjelaskan bahwa itulah yang ia minta pada kehidupannya yang lalu. Krishna mengatakan tidak mungkin bagi satu orang untuk memiliki semua kualitas yang ia inginkan untuk menjadi suaminya, jadi dia menikah dengan lima suami dalam kehidupan ini, yang memiliki semua sifat yang dimintanya. Setelah mendengarkan penjelasan dari Tuhan Krishna sendiri, ia, orangtuanya, dan kelima suaminya gembira dan menerima nasib yang telah diberikan kepada mereka dan hidup bahagia.

 

Pesan moral dari cerita ini adalah bahwa orang tidak dapat menemukan seorang suami atau istri dengan semua sifat-sifat baik atau buruk, sehingga seseorang harus belajar hidup dengan apa pun yang diberikan oleh nasib. Tidak ada pasangan yang sempurna karena tidak ada oang yang hanya punya kebiasaan baik dan tidak ada kebiasaan buruk.

 

Bab 16 Ringkasan: Secara umum, hanya ada dua jenis manusia: yang baik dan yang buruk atau jahat. Kebanyakan orang memiliki keduanya, kualitas baik dan kualitas buruk. Menyingkirkan kebiasaan buruk dan menumbuhkan kebiasaan yang baik diperlukan untuk kemajuan spiritual.

 

BAB 17

KEYAKINAN TIGA KALI LIPAT

 

Jai: Nenek, bagaimana aku tahu makanan apa yang baik untuk dimakan?

 

Nenek: Ada tiga jenis makanan, Jai. (Gita 17.07-10) Makanan yang memberikan umur panjang, kebajikan, kekuatan, kesehatan, kebahagiaan, dan kegembiraan yang lezat, halus, substansial, dan bergizi. Makanan sehat semacam ini yang terbaik. Makanan itu disebut Sattvik atau makanan sehat. Makanan yang sangat pahit, asam, asin, panas dan berminyak disebut makanan Rājasika atau makanan tidak berguna. Makanan seperti itu tidak sehat, menyebabkan penyakit, dan harus dihindari. Makanan yang tidak dimasak dengan baik, basi, hambar, busuk, dibakar, sisa, dan tidak murni (seperti daging dan alkohol) disebut makanan Tamasik atau buruk. Seseorang tidak boleh makan makanan seperti itu.

 

Jai: Bagaimana seharusnya aku berbicara kepada orang lain?

 

Nenek: Engkau tidak boleh berbohong. Kata-katamu tidak boleh kasar, pahit, keji, atau menghina. Kata-katamu harus manis, bermanfaat, dan jujur. (Gita 17,15). Seseorang yang berbicara sopan memenangkan hati semua dan disukai oleh semua orang. Orang yang bijaksana seharusnya mengatakan kebenaran jika bermanfaat dan tetap diam jika menyakitkan. Membantu mereka yang membutuhkan adalah ajaran universal.

 

Jai: Bagaimana seharusnya aku membantu orang lain?

 

Nenek: Adalah tugas kita untuk membantu mereka yang kurang beruntung dan tidak dapat menolong diri mereka sendiri. Bantu siapa saja yang membutuhkan bantuan, tetapi jangan pernah mengharapkan imbalan apapun. Beramal tidak hanya hal yang terbaik, tetapi juga merupakan satu-satunya kegunaan dari kekayaan. Kita semua harus membantu dengan tujuan baik. Memberi kembali apa yang menjadi milik dunia. Tapi ada tanggung jawab. Uang yang diberikan dalam amal harus diperoleh dengan benar. Dan kita harus pastikan bahwa penerima uang tidak akan menggunakan bantuan itu untuk tujuan kejahatan. (Gita 17.20-22)

 

Jai: Apakah Tuhan akan memberikan apa yang kita inginkan jika kita tulus berdoa untuk itu?

 

Nenek: Penuh keyakinan kepada Tuhan membuat sesuatu terjadi. Tidak ada yang mustahil bagi keyakinan. Keyakinan menimbulkan mukjizat. Kita harus memiliki keyakinan sebelum memulai pekerjaan. Dikatakan dalam Gita bahwa kita dapat menjadi apa pun yang kita mau jika kita selalu berpikir tentang hal itu dan berdoa kepada Tuhan dengan keyakinan. (Gita 17,03) Selalu pikirkan tentang apa yang engkau inginkan, dan impianmu bisa menjadi kenyataan.

 

Berikut adalah cerita tentang seekor burung gagak yang memiliki keyakinan.

 

 

23. Seeokor Burung Gagak yang Kehausan

 

Saat itu musim panas. Seekor gagak sangat haus. Ia terbang dari satu tempat ke tempat lain mencari air. Dia tidak bisa menemukan air di mana pun. Kolam, sungai, dan danau semua kering. Air di sumur terlalu dalam. Gagak itu sangat haus. Ia terbang dan terbang. Dia semakin lelah dan haus, tetapi ia tidak menghentikan pencariannya.

 

Akhirnya dia pikir ajalnya sudah dekat. Dia ingat Tuhan dan mulai berdoa untuk memperoleh air. Dia melihat sebuah kendi air di dekat sebuah rumah. Hal ini membuatnya sangat bahagia karena dia pikir pasti ada air di dalam kendi. Dia duduk di atas kendi dan memandang ke dalamnya. Dengan kecewa ia melihat air dalam kendi tidak dapat dijangkaunya. Dia bisa melihat air, tetapi paruhnya tidak bisa mencapai air. Dia sangat sedih dan mulai berpikir bagaimana caranya mencapai air. Tiba-tiba sebuah ide muncul dalam benaknya. Ada batu di dekat kendi. Ia mengambil batu-batu itu, satu per satu, dan mulai memasukkannya ke dalam kendi. Air mulai naik. Tak lama kemudian burung gagak bisa mencapai air dengan mudah. Ia minum air, mengucapkan terima kasih kepada Tuhan dengan senang hati dan terbang menjauh.

 

Oleh karena itu dikatakan, "Dimana ada kemauan, pasti ada jalan." Burung gagak melakukan apa yang kita semua harus lakukan. Dia tidak menyerah. Dia memiliki keyakinan bahwa doanya akan dijawab.

 

Berikut ini adalah cerita yang bagus:

 

 

24. Kelinci dan Kura-Kura

 

Kura-kura selalu bergerak sangat lambat. Temannya, kelinci, sering mentertawakan kura-kura yang lambat. Suatu hari, kura-kura tidak tahan mendengar penghinaan dan menantang kelinci untuk berlomba. Semua binatang di hutan mentertawakan gagasan ini karena biasanya lomba diadakan diantara kekuatan yang sama. Seekor rusa mengajukan diri untuk menjadi hakim.

Perlombaan dimulai. Kelinci berlari cepat, dan tak lama kemudian ia berada jauh di depan kura-kura. Setelah si kelinci berada semakin dekat ke garis finish, ia merasa yakin akan menang. Ia kembali menatap kura-kura yang bergerak lambat, yang berada jauh di belakang.

 

Kelinci sangat yakin akan menang. Ia berpikir, "Aku akan duduk di bawah pohon dan menunggu kura-kura. Ketika ia sampai di sini, aku akan berlari cepat dan melintasi garis finish. Ini akan membuatnya marah, dan akan sangat menyenangkan melihat kura-kura terhina."

 

Kelinci kemudian duduk di bawah pohon. Kura-kura masih jauh di belakang. Angin sejuk bertiup lembut. Setelah beberapa waktu berlalu, kelinci tertidur. Ketika ia bangun, ia melihat kura-kura melewati garis finish. Kelinci itu kalah dalam pertandingan! Semua binatang di hutan mentertawakan kelinci, dan ia memetik pelajaran berharga:

 

"Pelan dan mantap memenangkan perlombaan."

Engkau bisa berhasil dalam pekerjaan apapun jika engkau bekerja keras dengan keyakinan yang kuat. Bersemangatlah dengan apa yang engkau inginkan, dan engkau akan mendapatkannya. Kita adalah ciptaan dari pikiran dan keinginan kita sendiri. Pikiran menciptakan masa depan kita. Kita menjadi apa yang selalu kita pikirkan. Jadi jangan pernah berpikir negatif atau membiarkan keraguan memasuki pikiranmu. Terus berjalan ke arah tujuanmu. Engkau tidak bisa mendapatkan apa-apa melalui kemalasan, kelalaian, dan menunda. Terus hidupkan impianmu dalam hatimu, dan itu akan menjadi kenyataan. Semua kesulitan dapat dihilangkan dengan keyakinan kepada Tuhan dan tekad yang kuat untuk berhasil. Tetapi buah-buah keberhasilan harus dibagi dengan orang lain. Jika engkau ingin mimpimu menjadi kenyataan, bantulah orang lain mewujudkan impiannya!

 

Berikut ini adalah kisah tentang seorang laki-laki yang mengerti bahwa Tuhan menolong orang yang menolong diri mereka sendiri.

 

 

25. Pria yang Tidak Pernah Menyerah

 

Yava adalah putra dari seorang bijak yang melakukan tapa keras untuk mendapatkan berkat Deva Indra, Raja para Deva. Dia menyiksa tubuhnya dengan keras dan dengan demikian menimbulkan simpati Indra. Indra datang padanya dan bertanya mengapa ia menyakiti tubuhnya.

 

Yava menjawab: "Aku ingin menjadi seorang sarjana besar dalam Veda. Dibutuhkan waktu lama untuk belajar Veda dari seorang guru. Aku berlatih dengan keras untuk mendapatkan pengetahuan itu secara langsung. Berkatilah aku."

 

Indra tersenyum dan berkata:" Nak, engkau berada di jalan yang salah. Kembali ke rumah, cari guru yang baik, dan belajar Veda dari dia. Penyiksaan bukan cara untuk belajar; caranya adalah belajar dan hanya belajar." Setelah berkata begitu, Indra menghilang.

 

Tapi Yava tidak mau menyerah. Tetap saja dia melakukan praktek spiritual (penebusan dosa) dengan usaha yang lebih keras. Indra datang lagi di hadapan Yava dan memperingatkan dia lagi. Yava mengatakan bahwa jika doanya tidak dijawab, ia akan memotong tangan dan kakinya satu persatu dan mempersembahkannya ke api. Tidak, dia tidak akan pernah menyerah. Dia melanjutkan penebusan dosanya. Suatu pagi, selama penebusan dosanya, ketika ia pergi untuk mandi di sungai suci Gangā, ia melihat seorang lelaki tua di tepi melemparkan pasir ke dalam sungai.

"Kakek, apa yang engkau lakukan?" Tanya Yava.

 

Orang tua itu menjawab: "Aku akan membangun sebuah bendungan di sungai sehingga orang dapat menyeberangi sungai dengan mudah. Lihat betapa sulitnya sekarang untuk menyeberang. Pekerjaan yang berguna, bukan?"

 

Yava tertawa dan berkata: "Betapa bodohnya jika kakek pikir bisa membangun sebuah bendungan di sungai besar ini dengan segenggam pasir! Pulang dan lakukan pekerjaan yang lebih berguna."

 

Orang tua itu berkata:" Apakah pekerjaanku lebih bodoh daripada engkau yang belajar Veda, bukan dengan belajar, tapi dengan penebusan dosa?"

 

Yava sekarang tahu bahwa lelaki tua itu adalah Indra. Yava dengan sungguh-sungguh memohon kepada Indra untuk memberinya pelajaran secara pribadi.

 

Indra memberkatinya dan menghibur Yava dengan kata-kata berikut: "Aku mengabulkan permohonanmu. Baca Veda; engkau akan diajar."

 

Yava mempelajari Veda dan menjadi seorang sarjana besar dalam Veda.

 

Rahasia sukses adalah terus berpikir tentang apa yang engkau inginkan setiap saat dan jangan pernah menyerah sampai engkau mendapatkannya. Jangan biarkan pikiran negatif, seperti menunda untuk mulai bekerja, kemalasan, dan kecerobohan menghalangi jalanmu. Sebelum memulai atau mengakhiri sesuatu pekerjaan atau belajar, ulangi OM TAT SAT, tiga nama-nama Brahman.

 

Jai: Apa artinya OM TAT SAT, nek?

 

Nenek: Itu berarti Krishna, hanya Tuhan Yang Maha Esa, yang ada. OM digunakan sebelum memulai bekerja atau belajar apapun. OM TAT SAT atau OM shantih, shantih, shantih, juga digunakan pada akhir setiap tindakan.

 

Bab 17 Ringkasan: Ada tiga jenis makanan --- Sāttvik, Rājasik dan Tāmasik --- dan ketiganya mempengaruhi kesejahteraan kita. Katakan kebenaran dengan cara yang menyenangkan. Memberi sedekah kepada orang yang layak, dan memberi dengan bijak untuk menghindari penyalahgunaan. Engkau bisa menjadi apapun yang engkau inginkan jika engkau bekerja keras ke arah tujuanmu.

 

 

BAB 18

PEMBEBASAN MELALUI PENYANGKALAN

 

Jai: Nek, aku bingung dengan istilah yang berbeda yang nenek gunakan. Tolong jelaskan apa perbedaan antara penyangkalan (Samnyāsa) dan bekerja tanpa pamrih (KarmaYoga)?

 

Nenek: Sebagian orang berpikir penyangkalan berarti pergi jauh dari keluarga, rumah, harta benda, dan tinggal di sebuah gua atau hutan atau tempat lain di luar masyarakat. Tapi Krishna mendefinisikan Samnyāsa sebagai menyerahkan keinginan egois di balik semua pekerjaan. (Gita 6,01, 18,02). Dalam KarmaYoga seseorang menyerahkan keinginan pribadinya untuk menikmati hasil dari pekerjaannya. Jadi seorang Samnyāsi adalah KarmaYogi tingkat tinggi yang tidak melakukan apa pun untuk keuntungan pribadi.

 

Jai: Apakah itu berarti aku tidak boleh melakukan apa-apa untuk diriku sendiri yang memberi aku kesenangan?

 

Nenek: Itu tergantung pada jenis kenikmatan yang ada dalam pikiranmu. Tindakan seperti merokok, minum, berjudi, dan mengkonsumsi narkoba menyenangkan pada awalnya, tapi pasti merugikan pada akhirnya. Racun mungkin terasa lezat ketika engkau meminumnya, tapi kau tahu hasilnya mematikan. Di sisi lain, tindakan seperti meditasi, poojā dan membantu orang miskin, sepertinya sulit atau membosankan pada awalnya, tetapi memberikan hasil yang sangat berguna pada akhirnya. (Gita 5.22, 18,38). Jalan yang sangat baik untuk diikuti adalah menghindari kegiatan yang tampaknya menyenangkan pada awalnya, tetapi menyebabkan efek yang merugikan pada akhirnya.

 

Jai: Apa jenis kegiatan dalam masyarakat yang ada, nek?

 

Nenek: Dalam cara hidup Veda, kegiatan manusia dibagi menjadi empat tipe universal yang dijelaskan oleh Krishna. (4,13 Gita, 18,41-44). Keempat cara tersebut yaitu --- Brāhmana, Kshatriya, Vaishya dan Shudra --- yang didasarkan pada mental, intelektual, dan kemampuan fisik seseorang  ---  bukan berdasarkan kelahiran atau tingkat sosial dimana seseorang dilahirkan ---. Namun keempat pembagian ini sering dikelirukan dengan sistem kasta zaman modern di India dan di tempat lain. Sistem kasta didasarkan hanya pada kelahiran.

 

Mereka yang tertarik belajar, mengajar dan membimbing orang-orang dalam hal-hal rohani disebut Brāhmana atau intelektual. Mereka yang bisa membela negara, menegakkan hukum dan ketertiban, mencegah kejahatan, dan melaksanakan keadilan disebut Kshatriya, para prajurit. Mereka yang baik dalam pertanian, beternak, bisnis, perdagangan, keuangan dan industri dikenal sebagai Vaishya atau pengusaha. Mereka yang sangat baik dalam pelayanan dan tenaga kerja digolongkan sebagai Shudra atau pekerja.

 

Orang dilahirkan dengan kemampuan tertentu atau dapat mengembangkan kemampuan mereka melalui pelatihan dan usaha. Lahir dalam sebuah keluarga pada tingkat sosial tertentu, apakah tinggi atau rendah, tidak menentukan kelayakan seseorang.

 

Keempat sistem varna maksudnya bekerja sesuai dengan keterampilan dan kemampuan. Sayangnya, empat  klasifikasi pekerjaan menjadi rusak dipecah menjadi ratusan kasta yang kaku hingga merugikan Dharma besar ini. Swami Vivekananda menganggap sistem kasta modern di India sebagai noda besar di wajah cara hidup (Dharma) kita. Bahkan beberapa imigran terdidik dari India membentuk perkumpulan berdasarkan kasta di USA!

 

Jai: Bagaimana orang yang tinggal dan bekerja di masyarakat bisa mencapai pembebasan?

 

Nenek: Kerja menjadi pemujaan bila dilakukan sebagai pelayanan kepada Tuhan dan tanpa keterikatan pribadi pada hasil. Jika engkau melakukan pekerjaanmu dengan jujur, engkau tidak akan mendapatkan reaksi Karmā dan mencapai Tuhan.

 

Jika engkau melakukan pekerjaan yang tidak dimaksudkan untukmu, pekerjaan seperti itu menyebabkan stres, dan engkau tidak akan berhasil. Penting untuk menemukan pekerjaan yang paling tepat sesuai dengan sifatmu. Jadi, engkau harus tahu dirimu sebelum dapat memutuskan pekerjaan yang akan cocok untukmu. (Gita 18,47). Maka pekerjaanmu tidak akan menghasilkan stres dan akan mendorong kreativitas.

 

Tidak ada pekerjaan yang sempurna. Setiap pekerjaan memiliki beberapa kekurangan. (Gita 18,48). Engkau tidak perlu khawatir dengan kekurangan tersebut dalam tugas dan dalam hidupmu. Engkau bisa mencapai Tuhan dengan melakukan tugasmu dengan pengabdian kepada Tuhan dan menjaga indriamu di bawah kendali dengan beberapa praktek spiritual.

 

Kisah berikut menggambarkan bahwa seseorang dapat mencapai realisasi diri dengan sungguh-sungguh melakukan satu tugas. (Gita 18,46-58)

 

 

26. Aku Bukan Burung Bangau

 

Seorang pria suci bernama Kaushika telah memperoleh kekuatan rohani yang besar. Suatu hari, ia duduk di bawah pohon melakukan meditasi. Seekor burung bangau di atas pohon membuang kotorannya dan mengotori kepala Kushika. Kaushika melihat ke atas dengan marah, dan kemarahannya menewaskan burung itu seketika. Orang suci itu sedih ketika ia melihat burung itu mati tergeletak di tanah.

 

Beberapa waktu kemudian, ia pergi seperti biasa untuk mengemis makanan dan berdiri di depan pintu sebuah rumah. Ibu rumah tangga itu sibuk melayani suaminya makan dan sepertinya membiarkan orang suci itu menunggu di luar. Setelah suaminya diberi makan, ia keluar dengan makanan, mengatakan, "Aku minta maaf karena telah membuat engkau menunggu lama. Maafkan aku."

 

Tapi Kaushika, terbakar oleh kemarahan, berkata: "Wanita, engkau telah membuat aku menunggu lama. Ini tidak adil."

 

"Tolong maafkan aku," kata wanita itu. "Aku sedang melayani suamiku yang sakit sehingga menyebabkan keterlambatan."

 

"Sangat baik untuk melayani suami," jawab Kaushika, "tapi kau tampaknya menjadi wanita yang sombong."

 

"Aku membiarkan engkau menunggu hanya karena aku patuh melayani suamiku yang sakit," jawabnya. "Tolong jangan marah padaku. Aku bukan burung bangau untuk dibunuh oleh pikiran marahmu. Kemarahanmu tidak bisa melukai seorang wanita yang mengabdikan dirinya untuk melayani suami dan keluarganya."

 

Kaushika terkejut. Dia bertanya-tanya bagaimana wanita itu tahu tentang kejadian burung bangau itu. Wanita itu melanjutkan: "Wahai orang hebat, engkau tidak tahu rahasia tugas, bahwa kemarahan adalah musuh terbesar yang berdiam di dalam diri manusia. Pergilah ke desa Rampur di Mithilā dan belajarlah rahasia melakukan satu tugas dengan pengabdian dari Vyādha Rāj"

Kaushika pergi ke desa itu dan bertemu dengan pria bernama Vyādha Rāj. Dia terkejut mengetahui pria ini menjual daging di toko daging. Penjual daging itu bangkit dari tempat duduknya dan bertanya: "Tuan apakah tuan dalam keadaan baik? Apakah wanita suci itu mengirim tuan ke sini? Aku tahu mengapa tuan datang. Mari ke rumahku."

 

Si tukang daging mengajak Kaushika ke rumahnya di mana Kaushika melihat keluarga yang bahagia dan sangat kagum dengan kasih dan penghargaan yang dilakukan tukang daging dalam melayani orangtuanya. Kaushika mengambil pelajaran dari tukang daging bagaimana melakukan tugas. Vyādha Rāj tidak membunuh binatang; ia tidak pernah makan daging. Dia hanya melanjutkan bisnis keluarganya setelah ayahnya pensiun.

 

Setelah itu, Kaushika kembali ke rumahnya dan mulai melayani orang tuanya, tugas yang ia telah abaikan sebelumnya.

 

Moral dari cerita ini adalah bahwa engkau dapat mencapai kesempurnaan rohani dengan melakukan kewajiban apa pun dalam hidupmu dengan jujur. Ini adalah pemujaan sejati kepada Tuhan. (Gita 18,46) Krishna hidup dalam diri kita semua dan membimbing kita untuk bekerja sesuai dengan Karmā kita sendiri. (Gita 18,61) Lakukan upaya terbaikmu, dan dengan senang hati terima hasil sebagai kehendak-Nya. Ini disebut pasrah kepada Tuhan. (Gita 18,66). Karunia pengetahuan rohani adalah hadiah terbaik karena tidak adanya pengetahuan spiritual merupakan penyebab dari semua kejahatan di dunia. Menyebarkan pengetahuan spiritual merupakan pelayanan tertinggi kepada Krishna. (Gita 18.68-69)

 

Kedamaian abadi dan kekayaan bisa dicapai hanya jika engkau melakukan tugas dengan baik dan juga memiliki pengetahuan spiritual yang diberikan dalam Gita yang suci oleh Krishna. (Gita 18,78)

 

Bab 18 Ringkasan: Tuhan Krishna mengatakan bahwa tidak ada perbedaan nyata antara KarmaYogi dan Samnyāsi. Seorang KarmaYogi menyerahkan keinginan pribadinya pada hasil kerjanya, sedangkan seorang Samnyāsi bekerja tidak untuk keuntungan pribadi apapun sama sekali. Ada dua jenis kesenangan -- menolong dan menyakiti. Masyarakat memiliki pekerjaan yang berbeda yang sesuai dengan orang yang berbeda. Seseorang harus memilih bekerja dengan bijaksana. Engkau bisa mendapatkan realisasi Tuhan ketika hidup dalam masyarakat dengan mengikuti tiga D's - Duty (Tugas), Disiplin dan Devosi (Pemujaan) kepada Tuhan.

 

 

OM TAT SAT